Pejuang Doktoral: Segelas Kopi di Suitball Hotel
ORANG boleh berkata bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Namun dalam kenyataannya, usaha saja tidak cukup. Ia membutuhkan tenaga lain yang sering kali tidak terlihat: semangat juang, kesabaran menunggu, dan ketangguhan hati untuk terus melangkah meski jalan terasa panjang. Dalam dunia akademik, terutama di jenjang doktoral, seseorang bukan hanya diuji oleh tumpukan teori dan revisi, tetapi juga oleh ketahanan batin menghadapi waktu, jarak, dan ketidakpastian.
Rabu sore itu, 29 April 2026, sekitar pukul 17.30 WIB, langit Pekanbaru tampak muram. Hujan turun deras seperti sengaja memperlambat setiap langkah manusia yang sedang mengejar tujuan. Pertemuan dengan promotor di Suitball Hotel bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Seolah ada tangan tak terlihat yang mengatur jalannya. Sang maha waktu mempertemukan semuanya melalui serangkaian perpindahan dan penantian.
Awalnya, janji konsultasi dilakukan di gedung rektorat. Namun ketika sampai di sana, seorang satpam berkata pelan, “Ibu Prof baru saja keluar sekitar lima belas menit lalu.” Saya segera menghubungi beliau. Tempat pertemuan pun berpindah ke BSI, lalu berubah lagi ke salah satu pusat oleh-oleh di Jalan Arifin Ahmad. Di tengah hujan lebat dan kemacetan jalan lintas Pekanbaru–Bangkinang, waktu berjalan terasa lebih lambat dari biasanya. Kendaraan merayap. Air hujan memantul di kaca mobil seperti irama panjang yang menguji kesabaran. Ketika akhirnya saya sampai di lokasi, ternyata ibu profesor telah lebih dulu menuju Suitball Hotel karena ada janji lain. Pertemuan itu kembali berpindah arah. Saya menghubungi beliau sekali lagi, lalu melajukan perjalanan ke hotel tersebut.
Suitball Hotel Pekanbaru berdiri di kawasan yang nyaris tidak pernah benar-benar tidur. Di sekitarnya, pusat perbelanjaan Mall SKA memancarkan cahaya lampu yang gemerlap, seperti denyut kota modern yang terus bergerak tanpa jeda. Orang-orang lalu lalang dengan langkah cepat; ada yang keluar membawa kantong belanja, ada yang sibuk menatap layar telepon genggam, ada pula yang sekadar duduk menikmati malam. Jalanan di depannya dipenuhi kendaraan yang bergerak seperti arus panjang yang enggan berhenti. Kota itu terasa seperti manusia yang tidak mengenal lelah untuk beristirahat dan terus melangkah mengejar sesuatu yang entah bernama kebutuhan, impian, atau sekadar rutinitas hidup.
Di tengah hiruk-pikuk itulah, saya melangkah masuk ke hotel dengan tubuh yang masih menyimpan sisa hujan dan perjalanan panjang.
Menjelang magrib, akhirnya pertemuan itu benar-benar terjadi. Di sudut Suitball Hotel yang tenang, saya duduk berhadapan dengan promotor saya, Prof. Dr. Hj. Zaitun. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan ketika lembar demi lembar disertasi mulai dibuka di atas meja restoran hotel. Setelah perjalanan panjang dan penantian yang melelahkan, akhirnya diskusi akademik itu menemukan ruangnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, rekan saya, Ibu Rina, yang juga memiliki jadwal konsultasi, datang menyusul. Suasana yang awalnya formal perlahan berubah lebih hangat. Dari duduk di kursi luar hotel, kami berpindah ke ruang restoran. Lampu-lampu temaram memantulkan nuansa tenang, sementara alunan musik klasik terdengar lembut di kejauhan.
Saya memesan segelas kopi hitam khas Suitball Hotel. Aroma pahitnya perlahan naik bersama uap hangat yang menenangkan tubuh setelah perjalanan panjang diterpa hujan. Dari balik kaca restoran, lampu kendaraan di sekitar Mall SKA tampak memanjang seperti garis-garis cahaya yang tidak putus. Orang-orang terus bergerak, sementara di meja kecil itu kami sedang memperjuangkan sesuatu yang mungkin tidak semua orang mengerti: sebuah mimpi akademik yang dibangun dari bertahun-tahun pengorbanan.
Sementara itu, Ibu Prof dan Ibu Rina memilih jus. Diskusi berlangsung begitu akrab. Sesekali terdengar tawa kecil di sela pembahasan metodologi, teori, dan catatan revisi.
Tanpa terasa, azan magrib berkumandang dari kejauhan. Waktu seakan berjalan terlalu cepat di tengah percakapan yang penuh harapan itu. Di akhir konsultasi, Ibu Prof menatap kami dengan senyum yang teduh lalu berkata agar tetap semangat hingga garis finis. Sebuah kalimat sederhana, tetapi terasa seperti suntikan energi bagi jiwa yang mulai letih menempuh perjalanan panjang studi doktoral.
Tidak lama kemudian, kartu konsultasi dan naskah disertasi kami pun ditandatangani sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil. Di situlah ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Sebab, setiap tanda tangan bukan hanya tinta di atas kertas, melainkan jejak perjuangan, biaya perjalanan, waktu yang dikorbankan, dan doa-doa panjang yang diam-diam dipanjatkan.
Namun perjalanan hari itu belum selesai.
Malam mulai turun ketika kami melanjutkan perjalanan menuju rumah co-promotor, Dr. Alpizar, di Jalan Taman Karya 9. Saya menghubungi beliau melalui telepon dan membuat janji bertemu sekitar pukul 19.30 WIB. Kali ini kami bertiga: saya, Ibu Rina, dan Pak Zaid. Suasana konsultasi berlangsung lebih santai, tetapi tetap serius. Jam demi jam berlalu hingga mendekati pukul 21.00 WIB. Akhirnya, disertasi dan kartu konsultasi kembali mendapat ACC.
Ada rasa lega yang sulit diterjemahkan ketika keluar dari rumah beliau malam itu. Rasanya seperti seseorang yang baru saja berhasil melewati tanjakan panjang dalam perjalanan hidupnya.
Saya segera menghubungi agen bus untuk kembali ke Dumai malam itu juga. Namun balasan pesan WhatsApp dari admin bus membuat saya hanya bisa menarik napas panjang.
“Travel jam 9 malam sudah berangkat, Bang. Besok pagi lagi.”
Malam itu saya akhirnya memutuskan menginap di Pekanbaru. Kota yang biasanya terasa sibuk mendadak menjadi sunyi. Di dalam kamar, pikiran saya masih dipenuhi daftar syarat seminar hasil yang harus segera diselesaikan.
Keesokan harinya, saya kembali bergerak. Setelah berkomunikasi dengan pegawai pascasarjana, Buk Sapilah, yang dengan sabar menjelaskan berbagai persyaratan administrasi, sekitar pukul 12.30 WIB saya kembali menemui co-promotor untuk meminta tanda tangan surat pengesahan. Setelah semuanya selesai, saya menuju kampus pascasarjana untuk menyerahkan berkas pendaftaran seminar hasil.
Syukurlah, sebagian besar persyaratan telah saya siapkan dari rumah. Tinggal beberapa tahap administrasi yang perlu diselesaikan, termasuk mentransfer biaya pendaftaran sebesar Rp2.500.000. Dan pada Kamis, 30 April 2026, akhirnya nama saya resmi terdaftar sebagai peserta seminar hasil doktoral.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan saat itu. Bukan sekadar lega, tetapi juga kesadaran bahwa perjalanan panjang ini perlahan mendekati tujuan. Sebelum pulang, saya juga menghubungi Ketua Prodi, Dr. Jef. Di tengah suara rapat yang samar bersama rektor UIN, beliau hanya menyampaikan beberapa kata singkat.
“Mantap… teruskan.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi seorang pejuang disertasi, terkadang satu kalimat dukungan mampu menjadi bahan bakar untuk melanjutkan langkah yang hampir lelah. Dan segelas kopi di Suitball Hotel sore itu, pada akhirnya, bukan hanya tentang rasa pahit dan hangatnya minuman, melainkan tentang perjalanan panjang menuju sebuah impian bernama doktor. ***pekbrcity02wib




0 Response to " Pejuang Doktoral: Segelas Kopi di Suitball Hotel"
Posting Komentar