Novel: Cinta Dingin di Ashufa

by:Wamida

 BAGI Rahmad, cinta bukan tentang genggaman tangan atau kata “memiliki”.

Cinta adalah tentang perjalanan panjang mencari Allah.

Setahun lalu, Rahmad masih seorang santri sederhana di pesantren kecil pinggir kampung. Hari-harinya dipenuhi suara lantunan Al-Qur’an, zikir selepas subuh, dan nasihat para guru yang menenangkan hati. Dalam setiap langkah menuntut ilmu, ada wajah emak yang selalu menangis diam-diam saat melepasnya pergi, dan ada bapak yang tak pernah banyak bicara tetapi selalu mengirim doa lewat kerja kerasnya.

Kini, Rahmad telah menjadi mahasiswa di sebuah kampus Islam ternama.

Di tengah hiruk pikuk dunia kampus, organisasi, perdebatan ilmu, dan manusia-manusia yang sibuk mengejar dunia, Rahmad justru merasa semakin kosong. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan seorang guru di mushola kampus Ashufa.

Sosok itu bukan hanya seorang dosen biasa.

Ia adalah rektor kampus yang alim dalam ilmu usul fiqih dan tasawuf. Wajahnya teduh, tutur katanya lembut, tetapi setiap nasihatnya mampu mengetuk hati siapa saja yang mendengarnya. Di mata mahasiswa lain, beliau adalah akademisi besar. Namun bagi Rahmad, beliau adalah jalan yang mengenalkannya lebih dekat kepada Allah.

Guru itu tidak banyak mengajarkan tentang kebesaran dunia.
Ia justru mengajarkan bagaimana hati harus tetap kecil di hadapan Tuhan.

Bagaimana ilmu seharusnya melahirkan adab.
Bagaimana zikir mampu menenangkan jiwa yang paling lelah.
Dan bagaimana mencintai Rasulullah tidak cukup hanya lewat pujian, tetapi juga lewat akhlak dan perjuangan menuntut ilmu.

Sejak hari itu, hidup Rahmad perlahan berubah.

Malam-malamnya dipenuhi majelis ilmu.
Langkahnya akrab dengan perpustakaan dan mushola.
Lisannya belajar berzikir.
Dan hatinya mulai mengenal arti ikhlas.

Namun baru setahun belajar bersama guru tersebut, kabar duka itu datang.

Sang guru terlebih dahulu dipanggil pulang menghadap Sang Khalik.

Kepergian beliau membuat dunia Rahmad runtuh. Mushola Ashufa terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada lagi suara lembut yang menasihatinya selepas salat magrib. Tidak ada lagi sosok yang berkata,
“Ilmu tanpa cinta kepada Allah hanya akan melahirkan kesombongan.”

Di tengah kehilangan itu, Rahmad hampir kehilangan arah.

Tetapi cinta dari emak dan bapaknya,
doa para guru,
nasihat sahabat-sahabat saleh,
serta kerinduannya kepada Allah dan Rasulullah…
perlahan menguatkannya kembali.

Rahmad akhirnya memahami bahwa kehilangan bukan akhir dari perjalanan cinta.

Karena cinta sejati bukan tentang siapa yang tinggal paling lama.
Melainkan siapa yang berhasil menuntun kita lebih dekat kepada Allah.

Di mushola kecil bernama Ashufa itu, Rahmad belajar satu hal:
ada cinta yang tidak akan pernah mati yaitu cinta yang membawa manusia pulang kepada Tuhannya.

***

0 Response to " Novel: Cinta Dingin di Ashufa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel