Menjadi Sempurna Melalui Proses
PAGI itu, Senin, 15 Juni 2026, saya kembali menapaki satu tahapan penting dalam perjalanan panjang meraih gelar doktor. Jadwal Seminar Hasil (Semhas) sebenarnya baru dimulai pukul 08.30 WIB, tetapi sejak pukul 07.20 WIB saya sudah tiba di Kampus Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Sukajadi, Pekanbaru. Seperti biasa, menjelang sebuah ujian akademik, berbagai perasaan hadir bersamaan. Ada optimisme, harapan, dan sedikit kegelisahan yang sulit dihindari.
Sesampainya di kampus, saya langsung menuju ruang administrasi Pascasarjana. Di sana saya bertemu dengan sosok yang sudah sangat akrab bagi para mahasiswa, Ibu Sapilah. Saya biasa memanggilnya Buk Pilah. Sejak pertama kali mengenalnya saat proses wawancara masuk mahasiswa baru hingga hari ini, beliau tetap menjadi pribadi yang ramah, responsif, dan selalu jelas dalam memberikan informasi. Kami berbincang sejenak mengenai teknis pelaksanaan seminar. Obrolan sederhana yang tanpa disadari turut membantu menenangkan suasana hati.
Setelah itu saya menyempatkan diri masuk ke ruang Ketua Program Studi. Selain sekadar memberi kabar, saya juga sempat bercanda menanyakan apakah ada "bocoran" pertanyaan yang akan muncul saat seminar nanti. Tentu saja tidak ada bocoran apa pun. Namun percakapan ringan tersebut cukup membantu mengurangi ketegangan yang perlahan mulai terasa.
Meski para penguji dan reviewer adalah orang-orang yang selama ini saya kenal dengan baik, rasa gugup tetap tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Di hadapan saya hadir Prof. Dr. Hj. Zaitun, M.Ag. dan Dr. Alfizar, M.Si. selaku promotor dan ko-promotor yang selama ini membimbing perjalanan penelitian saya. Hadir pula Dr. Djefrin E Hulawa M.Ag dan Dr. Hj Yuliharti M.Ag yang dalam beberapa waktu terakhir cukup intens berkomunikasi terkait perkembangan studi saya. Sementara Prof. Dr. Azni, M.Ag. merupakan sahabat yang sudah sangat akrab. Namun di ruang akademik, kedekatan personal tidak pernah mengurangi objektivitas. Ujian tetaplah ujian yang harus dijalani dengan kesungguhan dan kesiapan.
Tepat sesuai jadwal, seminar hasil dimulai. Dr. Djefrin selaku Ketua Program Studi membuka sidang dan mengawali sesi dengan sejumlah pertanyaan serta masukan yang konstruktif. Prof. Dr Hj Zaitun kemudian memberikan berbagai catatan penting untuk memperkuat substansi penelitian. Prof. Dr Azni mengajukan sejumlah pertanyaan kritis sekaligus masukan yang mempertegas hasil temuan penelitian, terutama terkait penguatan aspek komitmen kebangsaan dalam implementasi 9 nilai moderasi beragama. Sementara itu, Dr. Alpizar lebih banyak memberikan arahan mengenai penyempurnaan metodologi penelitian. Setiap masukan yang disampaikan terasa bukan sebagai kritik yang memberatkan, melainkan bentuk kepedulian akademik agar penelitian ini semakin matang dan berkualitas.

Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Ia mengingatkan saya bahwa tidak ada karya ilmiah yang langsung sempurna sejak awal. Tidak ada disertasi yang lahir tanpa revisi. Tidak ada pencapaian akademik yang diraih tanpa proses panjang. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam setiap langkah. Tidak harus selalu berjalan cepat, tetapi jangan berhenti melangkah. Tidak harus selalu sempurna, tetapi terus berusaha menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa seluruh sesi diskusi, pertanyaan, tanggapan, dan masukan telah selesai. Hingga akhirnya Dr. Hj Yuliharti selaku Sekretaris Program Studi membacakan hasil seminar. Tepat pukul 10.05 WIB, keputusan yang dinanti itu pun disampaikan dengan menjedakan beberapa detik sehingga membuat penasaran dan jantung berdegup kencang.
"Lulus."
Alhamdulillah.
Kalimat yang singkat, tetapi menghadirkan rasa syukur yang begitu besar. Di balik keputusan itu tersimpan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, doa, dukungan keluarga, bimbingan para dosen, serta berbagai tantangan yang telah dilalui selama menempuh studi doktoral.
Sebelum meninggalkan kampus, saya kembali teringat percakapan ringan dengan Buk Pilah. Suatu ketika, dengan nada santai beliau pernah berkata, "Ada yang sampai tujuh ratus halaman tebal disertasinya, Pak."
Kami tertawa mendengarnya. Namun di balik candaan itu tersimpan pelajaran yang berharga. Setiap orang memiliki jalan perjuangannya masing-masing. Ada yang menulis ratusan halaman, ada yang harus berkali-kali memperbaiki penelitiannya, dan ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan studinya. Tetapi pada akhirnya, yang menentukan bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap konsisten menjalani proses hingga tuntas.
Seminar hasil bukanlah garis akhir. Ia hanyalah satu penanda bahwa tujuan itu semakin dekat. Masih ada revisi yang harus diselesaikan dan tahapan berikutnya yang menanti adalah Ujian Tertutup dan Ujian Terbuka. Namun pagi itu saya pulang dengan hati yang lebih tenang, membawa rasa syukur yang mendalam serta keyakinan bahwa setiap langkah yang dijalani dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan mengantarkan kita pada tujuan yang dicita-citakan.***pekbr,15/6/2026,jam23.00WIB




0 Response to " Menjadi Sempurna Melalui Proses"
Posting Komentar