Jejak yang Tak Pernah Pergi
Pagi itu, langit Dumai begitu cerah. Cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan yang menaungi halaman kampus Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai. Angin berembus pelan, membawa kesejukan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di pelataran kampus, satu per satu sivitas akademika mulai berdatangan. Mereka saling menyapa, berjabat tangan, bertukar senyum, dan sesekali mengenang cerita-cerita lama. Hari itu bukan sekadar peringatan hari lahir kampus, tetapi juga perjalanan panjang sebuah cita-cita yang terus hidup.
Ketika memasuki ruang Sidang Senat Terbuka dalam rangka Harlah ke-27 IAITF Dumai, Senin (12/07 2026) pukul 09.20 WIB, hati saya tiba-tiba dipenuhi rasa haru. Di hadapan saya duduk para pimpinan kampus yang hari ini memikul amanah besar untuk melanjutkan estafet perjuangan. Di bawah kepemimpinan Rektor, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil, bersama seluruh jajaran pimpinan, tersimpan satu mimpi yang terus dijaga yaitu mengantarkan IAITF Dumai menuju babak baru sebagai Universitas Islam Tafaqquh Fiddin (UiTF) Dumai.
Namun, di tengah suasana yang penuh semangat itu, ingatan saya berulang kali kembali kepada satu sosok yang hari ini hanya bisa kami hadirkan melalui doa dan kenangan. Almarhum Dr. H. M. Ahmad Rozai Akbar, M.H.
Beliau bukan hanya ketua STAI atau rektor pertama IAITF Dumai. Beliau adalah seorang guru kehidupan. Seorang pendidik yang mengajarkan bahwa membangun kampus bukan semata-mata mendirikan gedung, melainkan membangun harapan, membentuk karakter, dan menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan panjang untuk memuliakan manusia.
Masih teringat jelas ketika beliau mengajak bergabung menjadi bagian dari keluarga besar kampus ini. Ajakan itu tidak disampaikan dengan kalimat-kalimat yang muluk. Beliau hanya berbicara tentang pengabdian, tentang pentingnya melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak, serta tentang keyakinannya bahwa suatu hari nanti kampus ini akan tumbuh menjadi universitas yang membanggakan masyarakat Melayu di pesisir Selat Melaka dan bagian amal dunia dan akhirat.
Kami sering berdiskusi hingga larut. Pembicaraan kami tidak selalu tentang administrasi atau urusan akademik. Lebih sering beliau berbicara tentang mimpi. Tentang bagaimana dosen harus terus belajar, menulis, dan menghasilkan karya. Tentang mahasiswa yang tidak cukup hanya lulus, tetapi harus menjadi manusia yang bermanfaat. Tentang kampus yang harus hidup bersama masyarakat, bukan berdiri megah tetapi jauh dari persoalan umat.
Beliau adalah sosok yang percaya bahwa setiap orang memiliki peran dalam membangun lembaga. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil jika dilakukan dengan ikhlas. Karena itu, beliau mampu merangkul banyak orang untuk berjalan bersama. Di ruang rapat, di lorong kampus, bahkan di sela secangkir kopi, selalu ada pelajaran yang beliau tinggalkan.
Kini, setahun setelah kepergiannya, saya menyadari bahwa manusia boleh pergi, tetapi nilai-nilai yang diwariskannya akan terus tinggal. Setiap kali melihat mahasiswa memenuhi ruang kuliah, mendengar diskusi ilmiah para dosen, atau menyaksikan langkah-langkah IAITF Dumai menuju masa depan yang lebih besar, saya seperti melihat beliau kembali tersenyum.
Barangkali inilah hakikat sebuah warisan. Warisan bukan hanya bangunan yang berdiri kokoh atau jabatan yang pernah diemban. Warisan sejati adalah semangat yang tetap hidup dalam hati orang-orang yang melanjutkan perjuangan.
Pagi itu, di tengah Sidang Senat Harlah ke-27 IAITF Dumai dan menjelang satu tahun haul almarhum, saya kembali berbisik dalam hati, "Guru, kami masih berjalan di jalan yang pernah engkau tunjukkan. Doakan kami agar tetap istiqamah menjaga amanah ini."
Semoga suatu hari nanti, ketika papan nama Universitas Islam Tafaqquh Fiddin Dumai benar-benar berdiri tegak, setiap orang yang melangkah masuk ke dalamnya akan mengetahui bahwa di balik perjalanan besar itu pernah ada seorang guru yang bekerja dalam senyap, bermimpi tanpa lelah, dan mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Nama beliau adalah Dr. H. M. Ahmad Rozai Akbar, M.H. Semoga Allah Swt. melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal baktinya sebagai amal jariah, dan menempatkannya di sisi orang-orang yang dimuliakan. Aamiin. ***dm11.05WIb
0 Response to " Jejak yang Tak Pernah Pergi"
Posting Komentar