ILMU KOMUNIKASI: BAB 7 PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI
BAB
7
PERSEPSI
DALAM KOMUNIKASI
PENDAHULUAN
Persepsi
merupakan salah satu konsep fundamental dalam ilmu komunikasi karena menentukan
bagaimana individu memahami, menafsirkan, dan merespons pesan yang diterima.
Dalam konteks komunikasi, persepsi tidak hanya berkaitan dengan penerimaan
informasi, tetapi juga proses kognitif yang kompleks yang melibatkan
pengalaman, emosi, dan latar belakang individu. Hal ini menjadikan persepsi
sebagai fondasi utama dalam membentuk makna komunikasi antarindividu maupun
kelompok (DeVito, 2016; Aswaruddin et al., 2024).
Secara
konseptual, persepsi dapat dipahami sebagai proses aktif di mana individu
menyadari, memilih, dan menginterpretasikan stimulus dari lingkungan melalui
pancaindra. Proses ini tidak bersifat pasif, melainkan dipengaruhi oleh faktor
internal seperti kebutuhan, minat, dan pengalaman pribadi (DeVito, 2016).
Dengan demikian, setiap individu berpotensi memiliki persepsi yang berbeda
terhadap pesan yang sama, yang pada akhirnya memengaruhi efektivitas komunikasi
.
Dalam
kajian komunikasi modern, persepsi dipandang sebagai inti dari proses
komunikasi itu sendiri. Tanpa adanya kesamaan persepsi antara komunikator dan
komunikan, pesan yang disampaikan berpotensi mengalami distorsi atau bahkan
kegagalan makna. Oleh karena itu, keberhasilan komunikasi sangat ditentukan
oleh sejauh mana kesamaan persepsi dapat dicapai antara pihak-pihak yang
berkomunikasi .
Proses
pembentukan persepsi terdiri dari beberapa tahapan utama, yaitu seleksi,
organisasi, dan interpretasi. Pada tahap seleksi, individu memilih informasi
yang dianggap relevan dari berbagai stimulus yang ada. Selanjutnya, informasi
tersebut diorganisasikan ke dalam struktur kognitif tertentu sebelum akhirnya
diinterpretasikan menjadi makna yang utuh (Wood, 2016; Mulyana, 2005). Tahapan
ini menunjukkan bahwa persepsi merupakan proses konstruktif yang tidak selalu mencerminkan
realitas objektif.
Dalam
perspektif komunikasi interpersonal, persepsi memainkan peran penting dalam
membentuk hubungan sosial. Persepsi memengaruhi bagaimana individu menilai
orang lain, membangun kepercayaan, serta merespons pesan verbal maupun
nonverbal. Kesalahan persepsi (misperception) sering kali menjadi sumber
konflik dalam komunikasi, terutama ketika individu tidak memiliki pemahaman
yang cukup terhadap konteks atau latar belakang lawan bicara (Gudykunst &
Kim, 2017; Aswaruddin et al., 2024) .
Lebih
lanjut, persepsi juga dipengaruhi oleh faktor budaya, yang menjadikan
komunikasi lintas budaya semakin kompleks. Individu dari latar budaya yang
berbeda cenderung memiliki sistem nilai, simbol, dan interpretasi yang berbeda
terhadap pesan. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan persepsi yang signifikan
dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi global (West &
Turner, 2018) .
Dalam
era digital, dinamika persepsi menjadi semakin kompleks karena komunikasi tidak
lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Media digital memperluas ruang
komunikasi, tetapi juga meningkatkan potensi distorsi persepsi akibat
keterbatasan isyarat nonverbal. Pesan yang disampaikan melalui teks, misalnya,
sering kali ditafsirkan secara berbeda oleh penerima karena tidak adanya
konteks emosional yang jelas.
Analisis
lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi tidak hanya memengaruhi pemahaman
pesan, tetapi juga menentukan sikap dan perilaku individu. Persepsi yang
positif terhadap suatu pesan cenderung menghasilkan respons yang konstruktif,
sedangkan persepsi negatif dapat memicu resistensi atau konflik. Oleh karena
itu, kemampuan mengelola persepsi menjadi kompetensi penting dalam komunikasi
efektif.
Selain
itu, persepsi juga berkaitan erat dengan pembentukan realitas sosial. Dalam
perspektif konstruktivisme, realitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang
objektif semata, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial dan persepsi
individu. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya proses penyampaian informasi,
tetapi juga proses penciptaan makna bersama.
Dengan
memahami konsep persepsi dalam komunikasi, individu diharapkan mampu
meningkatkan efektivitas interaksi, meminimalkan kesalahpahaman, serta
membangun hubungan yang lebih harmonis. Oleh karena itu, kajian tentang
persepsi menjadi sangat penting dalam pengantar ilmu komunikasi, khususnya
dalam memahami dinamika komunikasi interpersonal, organisasi, maupun komunikasi
massa di era modern.
PENGERTIAN
PERSEPSI
Persepsi
merupakan konsep kunci dalam ilmu komunikasi yang menjelaskan bagaimana
individu memahami dan memberi makna terhadap pesan yang diterima. Dalam konteks
komunikasi, persepsi tidak sekadar proses menerima informasi, melainkan suatu
aktivitas mental yang kompleks yang melibatkan interpretasi terhadap stimulus
yang diterima melalui pancaindra. Oleh karena itu, persepsi menjadi dasar
terbentuknya pemahaman dalam interaksi komunikasi (DeVito, 2016; Mulyana,
2005).
Menurut
Joseph A. DeVito, persepsi adalah proses ketika individu menjadi sadar akan
objek, peristiwa, atau orang lain melalui pancaindra seperti melihat,
mendengar, dan merasakan. Definisi ini menegaskan bahwa persepsi merupakan
proses aktif, bukan pasif, karena individu secara selektif menangkap dan
mengolah informasi berdasarkan pengalaman dan kebutuhan personal . Dengan
demikian, persepsi sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan latar
belakang individu.
Lebih
lanjut, Deddy Mulyana mendefinisikan persepsi sebagai proses internal yang
memungkinkan seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan
dari lingkungan. Persepsi menurutnya adalah inti dari komunikasi, karena tanpa
persepsi yang tepat, pesan tidak akan dipahami secara akurat (Mulyana, 2007).
Pandangan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif sangat bergantung pada
kesamaan persepsi antara komunikator dan komunikan.
Secara
teoritis, persepsi juga dipahami sebagai proses kognitif yang mencakup tiga
tahapan utama, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Individu
pertama-tama memilih informasi tertentu (seleksi), kemudian mengaturnya dalam
struktur tertentu (organisasi), dan akhirnya memberikan makna (interpretasi).
Proses ini menunjukkan bahwa persepsi bukan refleksi langsung dari realitas,
melainkan konstruksi subjektif yang dipengaruhi oleh pengalaman dan konteks sosial
.
Dalam
perspektif psikologi komunikasi, persepsi tidak hanya berkaitan dengan stimulus
eksternal, tetapi juga faktor internal seperti nilai, sikap, dan motivasi. Hal
ini menjelaskan mengapa dua individu dapat memiliki pemahaman yang berbeda
terhadap pesan yang sama. Perbedaan persepsi ini sering kali menjadi sumber
kesalahpahaman dalam komunikasi interpersonal maupun organisasi.
Analisis
lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi memiliki dimensi sosial yang kuat.
Persepsi terhadap orang lain, yang dikenal sebagai persepsi sosial, melibatkan
proses penilaian terhadap karakter, niat, dan perilaku individu lain. Dalam
komunikasi interpersonal, persepsi sosial sangat menentukan kualitas hubungan,
karena memengaruhi kepercayaan, empati, dan respon komunikasi (Gudykunst &
Kim, 2017).
Selain
itu, persepsi juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan sosial.
Nilai-nilai budaya, pengalaman masa lalu, serta informasi yang berkembang di
masyarakat turut membentuk cara individu menafsirkan pesan. Hal ini memperkuat
argumentasi bahwa persepsi bersifat relatif dan kontekstual, sehingga tidak ada
satu makna tunggal dalam komunikasi .
Dalam
konteks komunikasi modern, terutama di era digital, persepsi menjadi semakin
kompleks karena keterbatasan isyarat nonverbal. Pesan yang disampaikan melalui
media digital sering kali menimbulkan multiinterpretasi, sehingga meningkatkan
potensi kesalahan persepsi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
persepsi menjadi sangat penting untuk meningkatkan efektivitas komunikasi di
berbagai konteks.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMENGARUHI PERSEPSI
Persepsi
dalam komunikasi merupakan proses kompleks yang tidak berdiri sendiri,
melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Faktor-faktor ini menentukan bagaimana individu memilih, mengorganisasikan, dan
menginterpretasikan pesan yang diterima. Dalam konteks komunikasi, pemahaman
terhadap faktor-faktor tersebut menjadi penting karena perbedaan persepsi
sering kali menjadi sumber utama kesalahpahaman antarindividu (Aswaruddin et
al., 2024; Mulyana, 2005).
Salah
satu faktor utama yang memengaruhi persepsi adalah faktor internal individu,
seperti pengalaman, motivasi, dan kepribadian. Pengalaman masa lalu membentuk
kerangka rujukan seseorang dalam menafsirkan pesan, sehingga individu cenderung
mengaitkan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Penelitian menunjukkan
bahwa pengalaman dan motivasi memiliki hubungan signifikan terhadap cara
individu memahami komunikasi (Fizran, 2016) .
Selain
itu, sikap dan nilai juga menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi.
Sikap yang positif atau negatif terhadap suatu objek atau individu akan
memengaruhi cara seseorang menafsirkan pesan yang diterima. Individu dengan
sikap terbuka cenderung memiliki persepsi yang lebih objektif dibandingkan
dengan individu yang memiliki prasangka atau stereotip tertentu (Rakhmat, 2011;
Dianti & Cahyati, 2021) .
Faktor
berikutnya adalah emosi, yang memiliki pengaruh kuat terhadap proses persepsi.
Kondisi emosional seseorang dapat mengubah cara individu melihat realitas. Misalnya,
perasaan takut atau marah dapat menyebabkan seseorang menafsirkan situasi
secara negatif, meskipun stimulus yang diterima bersifat netral. Hal ini
menunjukkan bahwa persepsi sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu
(Novinggi, 2019) .
Selanjutnya,
terdapat faktor eksternal yang berasal dari karakteristik stimulus atau
lingkungan. Faktor ini meliputi intensitas, ukuran, kontras, dan gerakan dari
objek yang diamati. Stimulus yang lebih mencolok cenderung lebih mudah menarik
perhatian dan memengaruhi persepsi individu. Dengan demikian, dalam komunikasi,
cara penyampaian pesan sangat menentukan bagaimana pesan tersebut dipersepsikan
(Robbins dalam Simbolon, 2008) .
Faktor
situasional juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi. Situasi sosial,
konteks komunikasi, serta lingkungan tempat komunikasi berlangsung dapat
memengaruhi interpretasi individu terhadap pesan. Persepsi yang muncul dalam
situasi formal dapat berbeda dengan situasi informal, meskipun pesan yang
disampaikan sama (West & Turner, 2018) .
Selain
itu, budaya merupakan faktor yang sangat dominan dalam memengaruhi persepsi.
Individu dari latar belakang budaya yang berbeda memiliki sistem nilai, norma,
dan simbol yang berbeda pula. Perbedaan budaya ini sering kali menyebabkan perbedaan
interpretasi terhadap pesan, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman
dalam komunikasi lintas budaya (Gudykunst & Kim, 2017) .
Faktor
lain yang tidak kalah penting adalah pengetahuan dan tingkat pendidikan.
Individu dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi cenderung memiliki
kemampuan interpretasi yang lebih luas dan mendalam terhadap pesan. Sebaliknya,
keterbatasan pengetahuan dapat menyebabkan kesalahan persepsi atau
penyederhanaan makna yang berlebihan (Dianti & Cahyati, 2021) .
Dalam
analisis komunikasi modern, media dan teknologi juga menjadi faktor yang
memengaruhi persepsi. Komunikasi melalui media digital sering kali
menghilangkan unsur nonverbal, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya
distorsi persepsi. Hal ini menunjukkan bahwa medium komunikasi turut menentukan
bagaimana pesan dipahami oleh penerima.
Lebih
jauh, faktor kebutuhan dan kepentingan individu juga berpengaruh terhadap
persepsi. Individu cenderung mempersepsi informasi yang relevan dengan
kebutuhan atau kepentingannya, sementara informasi lain diabaikan. Hal ini
sejalan dengan konsep selektivitas dalam persepsi, di mana individu secara
aktif memilih informasi yang dianggap penting (Mulyana, 2005; DeVito, 2016).
Secara
keseluruhan, faktor-faktor yang memengaruhi persepsi menunjukkan bahwa persepsi
bukanlah proses yang objektif, melainkan konstruksi subjektif yang dipengaruhi
oleh berbagai variabel. Oleh karena itu, dalam komunikasi, penting untuk
memahami keragaman faktor ini agar dapat meminimalkan kesalahpahaman dan
meningkatkan efektivitas interaksi. Analisis ini menegaskan bahwa keberhasilan
komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengelola dan
memahami perbedaan persepsi.
PERAN
PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Persepsi
memiliki peran sentral dalam komunikasi interpersonal karena menjadi dasar
bagaimana individu memahami, menafsirkan, dan merespons pesan yang diterima.
Dalam interaksi antarindividu, persepsi menentukan apakah pesan dipahami sesuai
dengan maksud komunikator atau justru mengalami distorsi makna. Oleh karena
itu, keberhasilan komunikasi interpersonal sangat bergantung pada kesesuaian
persepsi antara pihak yang berkomunikasi (DeVito, 2016; Mulyane et al., 2022).
Dalam
komunikasi interpersonal, persepsi berfungsi sebagai filter yang menyaring
informasi sebelum diproses lebih lanjut. Setiap individu memiliki latar
belakang pengalaman, nilai, dan keyakinan yang berbeda, sehingga proses
penyaringan ini bersifat subjektif. Akibatnya, pesan yang sama dapat
menghasilkan interpretasi yang berbeda pada setiap individu. Hal ini
menunjukkan bahwa persepsi berperan dalam membentuk realitas subjektif dalam
komunikasi (Rakhmat, 2011; Saleh et al., 2023).
Persepsi
juga berperan dalam membentuk penilaian terhadap orang lain (persepsi sosial).
Dalam interaksi interpersonal, individu cenderung menilai karakter, sikap, dan
niat orang lain berdasarkan persepsi yang terbentuk. Penilaian ini kemudian
memengaruhi cara individu berkomunikasi, seperti tingkat kepercayaan, empati,
dan keterbukaan dalam berinteraksi (Gudykunst & Kim, 2017; Ahmad et al.,
2025).
Selain
itu, persepsi berfungsi dalam menentukan efektivitas pesan yang disampaikan.
Komunikasi interpersonal yang efektif terjadi כאשר pesan yang dikirimkan oleh
komunikator dapat diterima dan dimaknai secara tepat oleh komunikan. Namun,
perbedaan persepsi sering kali menyebabkan terjadinya miskomunikasi. Dalam
konteks ini, kemampuan untuk memahami persepsi orang lain menjadi keterampilan
penting dalam komunikasi (DeVito, 2016; Wajdi et al., 2024).
Peran
persepsi juga terlihat dalam pembentukan hubungan interpersonal. Persepsi yang
positif terhadap orang lain akan mendorong terbentuknya hubungan yang harmonis,
sedangkan persepsi negatif dapat menimbulkan konflik dan ketegangan. Oleh
karena itu, persepsi tidak hanya memengaruhi proses komunikasi, tetapi juga
kualitas hubungan sosial yang terjalin (Mulyana, 2005; Putri et al., 2024).
Dalam
konteks komunikasi pendidikan, persepsi memiliki peran penting dalam interaksi
antara guru dan peserta didik. Persepsi guru terhadap siswa, maupun sebaliknya,
akan memengaruhi proses pembelajaran, termasuk motivasi, partisipasi, dan hasil
belajar. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang positif dalam komunikasi
pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran (Dawami, Zaitun, &
Murhayati, 2025; Zaki & Dawami, 2025).
Lebih
jauh, persepsi juga berperan dalam komunikasi berbasis budaya dan nilai-nilai
lokal. Kearifan lokal, seperti simbol budaya dan nilai filosofis, dapat
memengaruhi cara individu memaknai pesan dalam komunikasi interpersonal. Studi
Dawami et al. menunjukkan bahwa nilai simbolik dalam budaya lokal dapat
memperkuat pemahaman dan memperkaya makna komunikasi antarindividu (Dawami,
Akbar, & Nurmatias).
Dalam
era digital dan komunikasi modern, peran persepsi menjadi semakin kompleks.
Komunikasi yang berlangsung melalui media siber sering kali kehilangan unsur
nonverbal, sehingga meningkatkan potensi kesalahan persepsi. Hal ini menuntut
individu untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan dan menafsirkan pesan agar
tidak terjadi distorsi makna (Meisyaroh et al., 2023; Akbar, 2023).
Analisis
lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi juga memengaruhi proses pengambilan
keputusan dalam komunikasi interpersonal. Individu cenderung mengambil
keputusan berdasarkan interpretasi subjektif terhadap informasi yang diterima.
Oleh karena itu, kesalahan persepsi dapat berdampak pada keputusan yang kurang
tepat dalam interaksi sosial maupun profesional.
Secara
keseluruhan, persepsi memainkan peran yang sangat penting dalam komunikasi
interpersonal, mulai dari proses pemahaman pesan, pembentukan hubungan, hingga
pengambilan keputusan. Dengan memahami peran persepsi secara mendalam, individu
dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, mengurangi kesalahpahaman, serta
membangun hubungan yang lebih harmonis dan produktif dalam berbagai konteks
kehidupan.
RANGKUMAN
MATERI
Persepsi
dalam komunikasi merupakan proses kognitif yang melibatkan seleksi,
pengorganisasian, dan interpretasi stimulus sehingga menghasilkan makna
tertentu terhadap pesan yang diterima. Proses ini sangat dipengaruhi oleh
faktor internal seperti pengalaman, sikap, emosi, nilai, serta faktor eksternal
seperti lingkungan, budaya, dan karakteristik pesan itu sendiri. Karena
sifatnya yang subjektif, persepsi sering kali menyebabkan perbedaan pemahaman
antarindividu, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi.
Oleh sebab itu, persepsi menjadi elemen penting yang menentukan keberhasilan
atau kegagalan dalam penyampaian pesan.
Dalam
konteks komunikasi interpersonal, persepsi berperan besar dalam membentuk
hubungan sosial, menentukan respons terhadap pesan, serta memengaruhi
pengambilan keputusan. Persepsi yang positif dapat menciptakan komunikasi yang
efektif, harmonis, dan saling memahami, sedangkan persepsi yang negatif dapat
memicu konflik dan distorsi makna. Di era digital dan komunikasi modern,
kompleksitas persepsi semakin meningkat karena keterbatasan isyarat nonverbal
dalam media komunikasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
persepsi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas komunikasi, baik dalam
kehidupan pribadi, pendidikan, maupun sosial.
DAFTAR
PERTANYAAN (REFLEKTIF DAN ANALITIS)
1. Bagaimana pengalaman
pribadi dan latar belakang budaya Anda memengaruhi cara Anda menafsirkan pesan
dalam komunikasi sehari-hari? Berikan contoh konkret.
2. Mengapa perbedaan
persepsi sering kali menjadi penyebab utama terjadinya miskomunikasi dalam
komunikasi interpersonal? Analisis dengan pendekatan teori komunikasi yang
relevan.
3. Bagaimana peran emosi
dalam membentuk persepsi terhadap pesan yang diterima? Jelaskan dampaknya terhadap
efektivitas komunikasi.
4. Dalam era digital,
bagaimana keterbatasan isyarat nonverbal memengaruhi persepsi individu terhadap
pesan? Berikan analisis kritis beserta solusi untuk meminimalkan
kesalahpahaman.
5. Bagaimana strategi
yang dapat dilakukan untuk menyelaraskan persepsi antara komunikator dan
komunikan agar tercipta komunikasi yang efektif dan harmonis? Jelaskan secara
analitis.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad,
D., Akib, S., Wahyuni, R. S., Dawami, D., Stellarosa, Y., Nugraheni, E. S., et
al. (2025). Komunikasi pendidikan. CV Widina Media Utama.
Afrilia,
A. M., & Arifina, A. S. (2020). Komunikasi interpersonal.
Akbar,
M. R. (2023). Communication development people in the revolutionary era
industry 4.0 & Covid-19. Linguanusa: Social Humanities, Education and
Linguistic, 1(1), 10–18.
Aswaruddin,
A., Simangunsong, A. S., Damanik, S. N., Oktapia, D., & Rafsanjani, A.
(2024). Persepsi dalam komunikasi interpersonal. Journal on Education, 7(2).
https://doi.org/10.31004/joe.v7i2.8215
Dawami,
D., Akbar, M. R., & Nurmatias, W. (2024). Kearifan lokal dalam pendidikan
moderasi beragama: Telaah nilai filosofis makna simbolik tepak sirih.
Instructional Development Journal, 8(2), 449–457.
Dawami,
D., Helmiati, H., & Nazir, M. (2024). Analisis kebijakan integrasi
pendidikan agama Islam dalam kurikulum pendidikan di negara sekuler Belanda.
Instructional Development Journal, 7(3), 620–629.
Dawami,
Z., & Murhayati, S. (2025). Integrasi nilai Islam dalam model kurikulum
berbasis TIK. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan dan Keislaman, 20(1), 58–66.
DeVito,
J. A. (2016). The interpersonal communication book (14th ed.). Pearson.
Dianti,
D., & Cahyati, W. (2021). Persepsi masyarakat pada program studi ilmu
komunikasi. Buana Komunikasi.
Dilapanga,
A. R., & Mantiri, J. (2021). Perilaku organisasi.
Fizran,
F. (2016). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pasien tentang komunikasi
terapeutik. Menara Ilmu. https://doi.org/10.33559/mi.v11i75.452
Gudykunst,
W. B., & Kim, Y. Y. (2017). Communicating with strangers: An approach to
intercultural communication (5th ed.). McGraw-Hill.
Meisyaroh,
S., Kraugusteeliana, K., Irwanto, I., Dawami, D., Daud, R. F., Khairunnisa, K.,
et al. (2023). Media siber. CV Widina Media Utama.
Mulyana,
D. (2005). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Mulyana,
D. (2007). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Mulyane,
T. M., Umiyati, H., Putri, P., Dawami, D., Akib, S., Daud, R. F., et al.
(2022). Pengantar ilmu komunikasi. Penerbit Widina.
Novinggi,
V. (2019). Sensasi dan persepsi pada psikologi komunikasi. Al-Hikmah, 10(1),
40–51. https://doi.org/10.32505/hikmah.v10i1.1706
Putri,
D., Ummah, A. H., Dawami, D., Mustopa, M., Rochmansyah, E., Sari, M., et al.
(2024). Komunikasi penyiaran Islam. CV Widina Media Utama.
Rakhmat,
J. (2011). Psikologi komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Saleh,
M. S., Dawami, D., et al. (2023). Teori komunikasi pembelajaran. PT Global
Eksekutif Teknologi.
Wajdi,
F., Bawono, Y., Noviantari, A., Dawami, D., Nuryanti, N., Meditama, R. F., et
al. (2024). Pengantar karya tulis ilmiah. CV Widina Media Utama.
West,
R., & Turner, L. H. (2018). Introducing communication theory: Analysis and
application (6th ed.). McGraw-Hill.
Wood,
J. T. (2016). Interpersonal communication: Everyday encounters (8th ed.).
Cengage Learning.
Zaki,
R., & Dawami, D. (2025). Komunikasi Rasulullah dalam pendidikan. Jurnal
Alqolam, 9(1), 15–34.
PROFIL PENULIS
Nama saya Dawami, lahir
di Bukit Batu pada bulan Oktober 1975 dari pasangan ayah Busri dan ibu Rubiah.
Latar belakang keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup saya,
khususnya dalam menanamkan nilai-nilai keilmuan, ketekunan, dan penghormatan
terhadap pendidikan. Saat ini, saya menempuh studi pada program doktoral di
Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan konsentrasi Pendidikan Agama
Islam sebagai bentuk ikhtiar untuk memperdalam wawasan serta memberikan
kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam. Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan
merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, sementara dunia adalah ruang
aktualisasi cita-cita yang harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh. Dalam
perjalanan tersebut, ridha kedua orang tua menjadi jalan utama dalam meraih
keberkahan dan kemudahan. Oleh karena itu, setiap pencapaian yang saya raih
senantiasa saya niatkan sebagai bentuk bakti kepada mereka. Semoga cahaya ilmu
yang selama ini saya perjuangkan tidak hanya menjadi penerang dalam kehidupan
saya, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi ayah dan ibu di alam barzah,
sebagai wujud kasih sayang dan doa yang tidak pernah terputus.

0 Response to "ILMU KOMUNIKASI: BAB 7 PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI "
Posting Komentar