ILMU KOMUNIKASI: BAB 7 PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI

 



BAB 7

PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI

 

PENDAHULUAN

Persepsi merupakan salah satu konsep fundamental dalam ilmu komunikasi karena menentukan bagaimana individu memahami, menafsirkan, dan merespons pesan yang diterima. Dalam konteks komunikasi, persepsi tidak hanya berkaitan dengan penerimaan informasi, tetapi juga proses kognitif yang kompleks yang melibatkan pengalaman, emosi, dan latar belakang individu. Hal ini menjadikan persepsi sebagai fondasi utama dalam membentuk makna komunikasi antarindividu maupun kelompok (DeVito, 2016; Aswaruddin et al., 2024).

Secara konseptual, persepsi dapat dipahami sebagai proses aktif di mana individu menyadari, memilih, dan menginterpretasikan stimulus dari lingkungan melalui pancaindra. Proses ini tidak bersifat pasif, melainkan dipengaruhi oleh faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan pengalaman pribadi (DeVito, 2016). Dengan demikian, setiap individu berpotensi memiliki persepsi yang berbeda terhadap pesan yang sama, yang pada akhirnya memengaruhi efektivitas komunikasi .

Dalam kajian komunikasi modern, persepsi dipandang sebagai inti dari proses komunikasi itu sendiri. Tanpa adanya kesamaan persepsi antara komunikator dan komunikan, pesan yang disampaikan berpotensi mengalami distorsi atau bahkan kegagalan makna. Oleh karena itu, keberhasilan komunikasi sangat ditentukan oleh sejauh mana kesamaan persepsi dapat dicapai antara pihak-pihak yang berkomunikasi .

Proses pembentukan persepsi terdiri dari beberapa tahapan utama, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Pada tahap seleksi, individu memilih informasi yang dianggap relevan dari berbagai stimulus yang ada. Selanjutnya, informasi tersebut diorganisasikan ke dalam struktur kognitif tertentu sebelum akhirnya diinterpretasikan menjadi makna yang utuh (Wood, 2016; Mulyana, 2005). Tahapan ini menunjukkan bahwa persepsi merupakan proses konstruktif yang tidak selalu mencerminkan realitas objektif.

Dalam perspektif komunikasi interpersonal, persepsi memainkan peran penting dalam membentuk hubungan sosial. Persepsi memengaruhi bagaimana individu menilai orang lain, membangun kepercayaan, serta merespons pesan verbal maupun nonverbal. Kesalahan persepsi (misperception) sering kali menjadi sumber konflik dalam komunikasi, terutama ketika individu tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap konteks atau latar belakang lawan bicara (Gudykunst & Kim, 2017; Aswaruddin et al., 2024) .

Lebih lanjut, persepsi juga dipengaruhi oleh faktor budaya, yang menjadikan komunikasi lintas budaya semakin kompleks. Individu dari latar budaya yang berbeda cenderung memiliki sistem nilai, simbol, dan interpretasi yang berbeda terhadap pesan. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan persepsi yang signifikan dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi global (West & Turner, 2018) .

Dalam era digital, dinamika persepsi menjadi semakin kompleks karena komunikasi tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Media digital memperluas ruang komunikasi, tetapi juga meningkatkan potensi distorsi persepsi akibat keterbatasan isyarat nonverbal. Pesan yang disampaikan melalui teks, misalnya, sering kali ditafsirkan secara berbeda oleh penerima karena tidak adanya konteks emosional yang jelas.

Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi tidak hanya memengaruhi pemahaman pesan, tetapi juga menentukan sikap dan perilaku individu. Persepsi yang positif terhadap suatu pesan cenderung menghasilkan respons yang konstruktif, sedangkan persepsi negatif dapat memicu resistensi atau konflik. Oleh karena itu, kemampuan mengelola persepsi menjadi kompetensi penting dalam komunikasi efektif.

Selain itu, persepsi juga berkaitan erat dengan pembentukan realitas sosial. Dalam perspektif konstruktivisme, realitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang objektif semata, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial dan persepsi individu. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya proses penyampaian informasi, tetapi juga proses penciptaan makna bersama.

Dengan memahami konsep persepsi dalam komunikasi, individu diharapkan mampu meningkatkan efektivitas interaksi, meminimalkan kesalahpahaman, serta membangun hubungan yang lebih harmonis. Oleh karena itu, kajian tentang persepsi menjadi sangat penting dalam pengantar ilmu komunikasi, khususnya dalam memahami dinamika komunikasi interpersonal, organisasi, maupun komunikasi massa di era modern.

 

PENGERTIAN PERSEPSI

Persepsi merupakan konsep kunci dalam ilmu komunikasi yang menjelaskan bagaimana individu memahami dan memberi makna terhadap pesan yang diterima. Dalam konteks komunikasi, persepsi tidak sekadar proses menerima informasi, melainkan suatu aktivitas mental yang kompleks yang melibatkan interpretasi terhadap stimulus yang diterima melalui pancaindra. Oleh karena itu, persepsi menjadi dasar terbentuknya pemahaman dalam interaksi komunikasi (DeVito, 2016; Mulyana, 2005).

Menurut Joseph A. DeVito, persepsi adalah proses ketika individu menjadi sadar akan objek, peristiwa, atau orang lain melalui pancaindra seperti melihat, mendengar, dan merasakan. Definisi ini menegaskan bahwa persepsi merupakan proses aktif, bukan pasif, karena individu secara selektif menangkap dan mengolah informasi berdasarkan pengalaman dan kebutuhan personal . Dengan demikian, persepsi sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan latar belakang individu.

Lebih lanjut, Deddy Mulyana mendefinisikan persepsi sebagai proses internal yang memungkinkan seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan. Persepsi menurutnya adalah inti dari komunikasi, karena tanpa persepsi yang tepat, pesan tidak akan dipahami secara akurat (Mulyana, 2007). Pandangan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif sangat bergantung pada kesamaan persepsi antara komunikator dan komunikan.

Secara teoritis, persepsi juga dipahami sebagai proses kognitif yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Individu pertama-tama memilih informasi tertentu (seleksi), kemudian mengaturnya dalam struktur tertentu (organisasi), dan akhirnya memberikan makna (interpretasi). Proses ini menunjukkan bahwa persepsi bukan refleksi langsung dari realitas, melainkan konstruksi subjektif yang dipengaruhi oleh pengalaman dan konteks sosial .

Dalam perspektif psikologi komunikasi, persepsi tidak hanya berkaitan dengan stimulus eksternal, tetapi juga faktor internal seperti nilai, sikap, dan motivasi. Hal ini menjelaskan mengapa dua individu dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pesan yang sama. Perbedaan persepsi ini sering kali menjadi sumber kesalahpahaman dalam komunikasi interpersonal maupun organisasi.

Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi memiliki dimensi sosial yang kuat. Persepsi terhadap orang lain, yang dikenal sebagai persepsi sosial, melibatkan proses penilaian terhadap karakter, niat, dan perilaku individu lain. Dalam komunikasi interpersonal, persepsi sosial sangat menentukan kualitas hubungan, karena memengaruhi kepercayaan, empati, dan respon komunikasi (Gudykunst & Kim, 2017).

Selain itu, persepsi juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan sosial. Nilai-nilai budaya, pengalaman masa lalu, serta informasi yang berkembang di masyarakat turut membentuk cara individu menafsirkan pesan. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa persepsi bersifat relatif dan kontekstual, sehingga tidak ada satu makna tunggal dalam komunikasi .

Dalam konteks komunikasi modern, terutama di era digital, persepsi menjadi semakin kompleks karena keterbatasan isyarat nonverbal. Pesan yang disampaikan melalui media digital sering kali menimbulkan multiinterpretasi, sehingga meningkatkan potensi kesalahan persepsi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang persepsi menjadi sangat penting untuk meningkatkan efektivitas komunikasi di berbagai konteks.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERSEPSI

Persepsi dalam komunikasi merupakan proses kompleks yang tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor ini menentukan bagaimana individu memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pesan yang diterima. Dalam konteks komunikasi, pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut menjadi penting karena perbedaan persepsi sering kali menjadi sumber utama kesalahpahaman antarindividu (Aswaruddin et al., 2024; Mulyana, 2005).

Salah satu faktor utama yang memengaruhi persepsi adalah faktor internal individu, seperti pengalaman, motivasi, dan kepribadian. Pengalaman masa lalu membentuk kerangka rujukan seseorang dalam menafsirkan pesan, sehingga individu cenderung mengaitkan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman dan motivasi memiliki hubungan signifikan terhadap cara individu memahami komunikasi (Fizran, 2016) .

Selain itu, sikap dan nilai juga menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi. Sikap yang positif atau negatif terhadap suatu objek atau individu akan memengaruhi cara seseorang menafsirkan pesan yang diterima. Individu dengan sikap terbuka cenderung memiliki persepsi yang lebih objektif dibandingkan dengan individu yang memiliki prasangka atau stereotip tertentu (Rakhmat, 2011; Dianti & Cahyati, 2021) .

Faktor berikutnya adalah emosi, yang memiliki pengaruh kuat terhadap proses persepsi. Kondisi emosional seseorang dapat mengubah cara individu melihat realitas. Misalnya, perasaan takut atau marah dapat menyebabkan seseorang menafsirkan situasi secara negatif, meskipun stimulus yang diterima bersifat netral. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu (Novinggi, 2019) .

Selanjutnya, terdapat faktor eksternal yang berasal dari karakteristik stimulus atau lingkungan. Faktor ini meliputi intensitas, ukuran, kontras, dan gerakan dari objek yang diamati. Stimulus yang lebih mencolok cenderung lebih mudah menarik perhatian dan memengaruhi persepsi individu. Dengan demikian, dalam komunikasi, cara penyampaian pesan sangat menentukan bagaimana pesan tersebut dipersepsikan (Robbins dalam Simbolon, 2008) .

Faktor situasional juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi. Situasi sosial, konteks komunikasi, serta lingkungan tempat komunikasi berlangsung dapat memengaruhi interpretasi individu terhadap pesan. Persepsi yang muncul dalam situasi formal dapat berbeda dengan situasi informal, meskipun pesan yang disampaikan sama (West & Turner, 2018) .

Selain itu, budaya merupakan faktor yang sangat dominan dalam memengaruhi persepsi. Individu dari latar belakang budaya yang berbeda memiliki sistem nilai, norma, dan simbol yang berbeda pula. Perbedaan budaya ini sering kali menyebabkan perbedaan interpretasi terhadap pesan, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi lintas budaya (Gudykunst & Kim, 2017) .

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pengetahuan dan tingkat pendidikan. Individu dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan interpretasi yang lebih luas dan mendalam terhadap pesan. Sebaliknya, keterbatasan pengetahuan dapat menyebabkan kesalahan persepsi atau penyederhanaan makna yang berlebihan (Dianti & Cahyati, 2021) .

Dalam analisis komunikasi modern, media dan teknologi juga menjadi faktor yang memengaruhi persepsi. Komunikasi melalui media digital sering kali menghilangkan unsur nonverbal, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya distorsi persepsi. Hal ini menunjukkan bahwa medium komunikasi turut menentukan bagaimana pesan dipahami oleh penerima.

Lebih jauh, faktor kebutuhan dan kepentingan individu juga berpengaruh terhadap persepsi. Individu cenderung mempersepsi informasi yang relevan dengan kebutuhan atau kepentingannya, sementara informasi lain diabaikan. Hal ini sejalan dengan konsep selektivitas dalam persepsi, di mana individu secara aktif memilih informasi yang dianggap penting (Mulyana, 2005; DeVito, 2016).

Secara keseluruhan, faktor-faktor yang memengaruhi persepsi menunjukkan bahwa persepsi bukanlah proses yang objektif, melainkan konstruksi subjektif yang dipengaruhi oleh berbagai variabel. Oleh karena itu, dalam komunikasi, penting untuk memahami keragaman faktor ini agar dapat meminimalkan kesalahpahaman dan meningkatkan efektivitas interaksi. Analisis ini menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengelola dan memahami perbedaan persepsi.

 

PERAN PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Persepsi memiliki peran sentral dalam komunikasi interpersonal karena menjadi dasar bagaimana individu memahami, menafsirkan, dan merespons pesan yang diterima. Dalam interaksi antarindividu, persepsi menentukan apakah pesan dipahami sesuai dengan maksud komunikator atau justru mengalami distorsi makna. Oleh karena itu, keberhasilan komunikasi interpersonal sangat bergantung pada kesesuaian persepsi antara pihak yang berkomunikasi (DeVito, 2016; Mulyane et al., 2022).

Dalam komunikasi interpersonal, persepsi berfungsi sebagai filter yang menyaring informasi sebelum diproses lebih lanjut. Setiap individu memiliki latar belakang pengalaman, nilai, dan keyakinan yang berbeda, sehingga proses penyaringan ini bersifat subjektif. Akibatnya, pesan yang sama dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda pada setiap individu. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi berperan dalam membentuk realitas subjektif dalam komunikasi (Rakhmat, 2011; Saleh et al., 2023).

Persepsi juga berperan dalam membentuk penilaian terhadap orang lain (persepsi sosial). Dalam interaksi interpersonal, individu cenderung menilai karakter, sikap, dan niat orang lain berdasarkan persepsi yang terbentuk. Penilaian ini kemudian memengaruhi cara individu berkomunikasi, seperti tingkat kepercayaan, empati, dan keterbukaan dalam berinteraksi (Gudykunst & Kim, 2017; Ahmad et al., 2025).

Selain itu, persepsi berfungsi dalam menentukan efektivitas pesan yang disampaikan. Komunikasi interpersonal yang efektif terjadi כאשר pesan yang dikirimkan oleh komunikator dapat diterima dan dimaknai secara tepat oleh komunikan. Namun, perbedaan persepsi sering kali menyebabkan terjadinya miskomunikasi. Dalam konteks ini, kemampuan untuk memahami persepsi orang lain menjadi keterampilan penting dalam komunikasi (DeVito, 2016; Wajdi et al., 2024).

Peran persepsi juga terlihat dalam pembentukan hubungan interpersonal. Persepsi yang positif terhadap orang lain akan mendorong terbentuknya hubungan yang harmonis, sedangkan persepsi negatif dapat menimbulkan konflik dan ketegangan. Oleh karena itu, persepsi tidak hanya memengaruhi proses komunikasi, tetapi juga kualitas hubungan sosial yang terjalin (Mulyana, 2005; Putri et al., 2024).

Dalam konteks komunikasi pendidikan, persepsi memiliki peran penting dalam interaksi antara guru dan peserta didik. Persepsi guru terhadap siswa, maupun sebaliknya, akan memengaruhi proses pembelajaran, termasuk motivasi, partisipasi, dan hasil belajar. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang positif dalam komunikasi pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran (Dawami, Zaitun, & Murhayati, 2025; Zaki & Dawami, 2025).

Lebih jauh, persepsi juga berperan dalam komunikasi berbasis budaya dan nilai-nilai lokal. Kearifan lokal, seperti simbol budaya dan nilai filosofis, dapat memengaruhi cara individu memaknai pesan dalam komunikasi interpersonal. Studi Dawami et al. menunjukkan bahwa nilai simbolik dalam budaya lokal dapat memperkuat pemahaman dan memperkaya makna komunikasi antarindividu (Dawami, Akbar, & Nurmatias).

Dalam era digital dan komunikasi modern, peran persepsi menjadi semakin kompleks. Komunikasi yang berlangsung melalui media siber sering kali kehilangan unsur nonverbal, sehingga meningkatkan potensi kesalahan persepsi. Hal ini menuntut individu untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan dan menafsirkan pesan agar tidak terjadi distorsi makna (Meisyaroh et al., 2023; Akbar, 2023).

Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa persepsi juga memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam komunikasi interpersonal. Individu cenderung mengambil keputusan berdasarkan interpretasi subjektif terhadap informasi yang diterima. Oleh karena itu, kesalahan persepsi dapat berdampak pada keputusan yang kurang tepat dalam interaksi sosial maupun profesional.

Secara keseluruhan, persepsi memainkan peran yang sangat penting dalam komunikasi interpersonal, mulai dari proses pemahaman pesan, pembentukan hubungan, hingga pengambilan keputusan. Dengan memahami peran persepsi secara mendalam, individu dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, mengurangi kesalahpahaman, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dan produktif dalam berbagai konteks kehidupan.

RANGKUMAN MATERI

Persepsi dalam komunikasi merupakan proses kognitif yang melibatkan seleksi, pengorganisasian, dan interpretasi stimulus sehingga menghasilkan makna tertentu terhadap pesan yang diterima. Proses ini sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengalaman, sikap, emosi, nilai, serta faktor eksternal seperti lingkungan, budaya, dan karakteristik pesan itu sendiri. Karena sifatnya yang subjektif, persepsi sering kali menyebabkan perbedaan pemahaman antarindividu, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Oleh sebab itu, persepsi menjadi elemen penting yang menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam penyampaian pesan.

Dalam konteks komunikasi interpersonal, persepsi berperan besar dalam membentuk hubungan sosial, menentukan respons terhadap pesan, serta memengaruhi pengambilan keputusan. Persepsi yang positif dapat menciptakan komunikasi yang efektif, harmonis, dan saling memahami, sedangkan persepsi yang negatif dapat memicu konflik dan distorsi makna. Di era digital dan komunikasi modern, kompleksitas persepsi semakin meningkat karena keterbatasan isyarat nonverbal dalam media komunikasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang persepsi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas komunikasi, baik dalam kehidupan pribadi, pendidikan, maupun sosial.

 

DAFTAR PERTANYAAN (REFLEKTIF DAN ANALITIS)

1. Bagaimana pengalaman pribadi dan latar belakang budaya Anda memengaruhi cara Anda menafsirkan pesan dalam komunikasi sehari-hari? Berikan contoh konkret.

2. Mengapa perbedaan persepsi sering kali menjadi penyebab utama terjadinya miskomunikasi dalam komunikasi interpersonal? Analisis dengan pendekatan teori komunikasi yang relevan.

3. Bagaimana peran emosi dalam membentuk persepsi terhadap pesan yang diterima? Jelaskan dampaknya terhadap efektivitas komunikasi.

4. Dalam era digital, bagaimana keterbatasan isyarat nonverbal memengaruhi persepsi individu terhadap pesan? Berikan analisis kritis beserta solusi untuk meminimalkan kesalahpahaman.

5. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan untuk menyelaraskan persepsi antara komunikator dan komunikan agar tercipta komunikasi yang efektif dan harmonis? Jelaskan secara analitis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad, D., Akib, S., Wahyuni, R. S., Dawami, D., Stellarosa, Y., Nugraheni, E. S., et al. (2025). Komunikasi pendidikan. CV Widina Media Utama.

Afrilia, A. M., & Arifina, A. S. (2020). Komunikasi interpersonal.

Akbar, M. R. (2023). Communication development people in the revolutionary era industry 4.0 & Covid-19. Linguanusa: Social Humanities, Education and Linguistic, 1(1), 10–18.

Aswaruddin, A., Simangunsong, A. S., Damanik, S. N., Oktapia, D., & Rafsanjani, A. (2024). Persepsi dalam komunikasi interpersonal. Journal on Education, 7(2). https://doi.org/10.31004/joe.v7i2.8215

Dawami, D., Akbar, M. R., & Nurmatias, W. (2024). Kearifan lokal dalam pendidikan moderasi beragama: Telaah nilai filosofis makna simbolik tepak sirih. Instructional Development Journal, 8(2), 449–457.

Dawami, D., Helmiati, H., & Nazir, M. (2024). Analisis kebijakan integrasi pendidikan agama Islam dalam kurikulum pendidikan di negara sekuler Belanda. Instructional Development Journal, 7(3), 620–629.

Dawami, Z., & Murhayati, S. (2025). Integrasi nilai Islam dalam model kurikulum berbasis TIK. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan dan Keislaman, 20(1), 58–66.

DeVito, J. A. (2016). The interpersonal communication book (14th ed.). Pearson.

Dianti, D., & Cahyati, W. (2021). Persepsi masyarakat pada program studi ilmu komunikasi. Buana Komunikasi.

Dilapanga, A. R., & Mantiri, J. (2021). Perilaku organisasi.

Fizran, F. (2016). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pasien tentang komunikasi terapeutik. Menara Ilmu. https://doi.org/10.33559/mi.v11i75.452

Gudykunst, W. B., & Kim, Y. Y. (2017). Communicating with strangers: An approach to intercultural communication (5th ed.). McGraw-Hill.

Meisyaroh, S., Kraugusteeliana, K., Irwanto, I., Dawami, D., Daud, R. F., Khairunnisa, K., et al. (2023). Media siber. CV Widina Media Utama.

Mulyana, D. (2005). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2007). Ilmu komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.

Mulyane, T. M., Umiyati, H., Putri, P., Dawami, D., Akib, S., Daud, R. F., et al. (2022). Pengantar ilmu komunikasi. Penerbit Widina.

Novinggi, V. (2019). Sensasi dan persepsi pada psikologi komunikasi. Al-Hikmah, 10(1), 40–51. https://doi.org/10.32505/hikmah.v10i1.1706

Putri, D., Ummah, A. H., Dawami, D., Mustopa, M., Rochmansyah, E., Sari, M., et al. (2024). Komunikasi penyiaran Islam. CV Widina Media Utama.

Rakhmat, J. (2011). Psikologi komunikasi. Remaja Rosdakarya.

Saleh, M. S., Dawami, D., et al. (2023). Teori komunikasi pembelajaran. PT Global Eksekutif Teknologi.

Wajdi, F., Bawono, Y., Noviantari, A., Dawami, D., Nuryanti, N., Meditama, R. F., et al. (2024). Pengantar karya tulis ilmiah. CV Widina Media Utama.

West, R., & Turner, L. H. (2018). Introducing communication theory: Analysis and application (6th ed.). McGraw-Hill.

Wood, J. T. (2016). Interpersonal communication: Everyday encounters (8th ed.). Cengage Learning.

Zaki, R., & Dawami, D. (2025). Komunikasi Rasulullah dalam pendidikan. Jurnal Alqolam, 9(1), 15–34.

 

PROFIL PENULIS

Nama saya Dawami, lahir di Bukit Batu pada bulan Oktober 1975 dari pasangan ayah Busri dan ibu Rubiah. Latar belakang keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup saya, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai keilmuan, ketekunan, dan penghormatan terhadap pendidikan. Saat ini, saya menempuh studi pada program doktoral di Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan konsentrasi Pendidikan Agama Islam sebagai bentuk ikhtiar untuk memperdalam wawasan serta memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam. Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, sementara dunia adalah ruang aktualisasi cita-cita yang harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh. Dalam perjalanan tersebut, ridha kedua orang tua menjadi jalan utama dalam meraih keberkahan dan kemudahan. Oleh karena itu, setiap pencapaian yang saya raih senantiasa saya niatkan sebagai bentuk bakti kepada mereka. Semoga cahaya ilmu yang selama ini saya perjuangkan tidak hanya menjadi penerang dalam kehidupan saya, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi ayah dan ibu di alam barzah, sebagai wujud kasih sayang dan doa yang tidak pernah terputus.

 

0 Response to "ILMU KOMUNIKASI: BAB 7 PERSEPSI DALAM KOMUNIKASI "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel