Doa Terbaik BuatMU Senior, H Zulmansyah Sekedang Sekretaris Jenderal PWI Pusat
PAGI itu, Sabtu (18 April 2026), kabar duka datang begitu tiba-tiba dan menghentak hati. Saat membuka pesan di grup WhatsApp PWI Riau, suasana hening dini hari seketika berubah menjadi pilu. Di layar ponsel, tersaji kabar yang tak pernah diharapkan: Sekretaris Jenderal PWI Pusat, H. Zulmansyah Sekedang, telah berpulang. Sosok yang selama ini dikenal hangat dan penuh semangat itu kini telah pergi untuk selamanya.
Pesan itu berbunyi sederhana namun menghujam perasaan: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah meninggal dunia saudara kita, H. Zulmansyah Sekedang, dini hari, 18 April 2026, sekitar pukul 00.05 WIB di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, disebabkan serangan jantung.” Saya membacanya sekitar pukul 03.00 WIB, tepat saat hendak memulai aktivitas dini hari. Dalam keheningan waktu itu, kabar tersebut terasa semakin dalam menyentuh batin.
Sejujurnya, beberapa hari terakhir, bahkan sejak masih berada di Malaysia tiga hari sebelumnya, sosok beliau kerap terlintas dalam ingatan. Ada semacam firasat yang sulit dijelaskan. Dan dini hari itu, seakan menjadi jawaban dari kegelisahan yang samar—bahwa beliau telah kembali menghadap Sang Pemilik Waktu.
Bagi saya, almarhum bukan sekadar senior. Ia adalah mentor, abang, sekaligus guru dalam perjalanan profesional. Perkenalan kami bermula sejak masa awal perkuliahan di Jurusan Administrasi Negara, Fisipol Universitas Riau. Sebagai yuniornya, saya banyak belajar dari keteladanan dan semangatnya. Ia pula yang mendorong saya untuk berani maju sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (Himagara), mengikuti jejaknya yang pernah memimpin organisasi tersebut dan bergabung diorganisasi ekstra kampus bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol dan berlanjut hingga ke HMI Cabang Pekanbaru.
Kebersamaan kami berlanjut dalam dinamika organisasi kampus. Saya pernah menjadi bagian dari tim yang mendukungnya dalam pemilihan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Fisipol. Meski saat itu kami belum berhasil, semangat tidak pernah padam. Ia kemudian mengajak saya bergabung dalam Bahana Mahasiswa, dan ketika ia keluar, saya pun ikut melangkah bersamanya, turut mengembangkan tabloid fakultas bernama Politia.
Hubungan itu semakin erat ketika kami sama-sama menapaki dunia jurnalistik di Riau Pos Media Grup. Ia menjadi Kordinator Liputan (KL) di Harian Pagi Riau Pos, sementara saya berkarya di Tabloid Politik Watan (Riau Pos Media Gurp). Beberapa kali ia mengajak saya untuk bergabung ke harian, namun saya memilih tetap bertahan di tabloid karena kenyamanan bekerja bersama para senior lain yang juga banyak memberi warna dalam perjalanan saya—seperti Bang Norham (Pemimpin Redaksi), Raja Isyam Azwar (Redaktur Pelaksana), Hendrizal Ruslan (alm.), serta Edy RM sebagai pimpinan perusahaan.
Saat beliau dipercaya menjadi Ketua PWI Riau, saya pun turut menjadi bagian dari kepengurusan. Meski saat itu fokus saya lebih banyak pada penyelesaian studi magister, komunikasi dan kebersamaan tetap terjalin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Komunikasi, hingga akhirnya ia benar-benar mengambil langkah tersebut—meski dalam hal ini saya lebih dahulu menyelesaikannya. Mengisi dunia akademik saat ini saya tekuni, maka beberapa kali saya mengundangnya untuk menjadi narasumber dalam forum seminar internasional yang diadakan kampus IAITF Dumai dan Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Melaka (PIPSM).
Hubungan kami tetap hangat hingga akhir. Candaan, diskusi, hingga dorongan agar ia melanjutkan ke jenjang S3 sempat menjadi bagian dari komunikasi kami, meski saya tak pernah tahu apakah itu sempat ia realisasikan. Saat itu, saya sudah masuk semester 1 program doktoral di UIN Suska Riau. Bagi saya, beliau adalah sosok pemimpin yang merangkul, penuh kepedulian, berprinsip kuat, dan selalu berpikir positif. Ia meyakini bahwa selalu ada jalan dalam setiap persoalan, dan dalam setiap jalan selalu tersimpan harapan. Sosok itulah yang diam-diam banyak saya pelajari—dan kini, kenangan itu menjadi warisan berharga yang tak akan pernah hilang. ''Selamat jalan abangKU, senior dan guru. Moga segala kebaikan jadi ibadah,'' ***/dawami bukitbatu

0 Response to "Doa Terbaik BuatMU Senior, H Zulmansyah Sekedang Sekretaris Jenderal PWI Pusat"
Posting Komentar