Teringat Jai…


Kita sering mendengar bahwa seorang murid harus mencintai gurunya.

Itu benar.

Sebab dari seorang guru, seorang murid mengenal ilmu, mengenal jalan, belajar membaca kehidupan, dan perlahan menemukan arah untuk melangkah.

Tetapi sore ini saya melihat sesuatu yang jauh lebih dalam.

Bukan tentang bagaimana seorang murid mencintai gurunya, melainkan bagaimana seorang guru mencintai muridnya.

Dan ternyata, cinta seorang guru kepada muridnya bisa begitu dalam. Ia tidak selalu terlihat dalam kata-kata. Kadang ia hanya hadir dalam perhatian, dalam nasihat, dalam perjuangan, dalam doa-doa yang diam-diam dipanjatkan.

Bahkan ketika murid itu telah pergi, cinta itu tetap tinggal.

Itulah yang saya rasakan Sabtu, 12 September 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, di teras depan Gedung Rektorat IAITF Dumai.

Saya melihat mata seorang guru yang berkaca.

Air matanya memang belum jatuh.

Tetapi saya tahu, ada sesuatu yang sedang pecah perlahan di dalam dadanya.

“Macam tak pecaya, Jai...”

Hanya kalimat pendek itu yang keluar.

Tetapi terkadang, kesedihan yang paling dalam memang tidak membutuhkan banyak kata.

Kalimat itu seperti membawa saya ke sebuah perjalanan panjang tentang seorang guru dan muridnya. Tentang masa lalu yang mungkin tiba-tiba kembali hadir. Tentang ruang-ruang belajar, percakapan, nasihat, perjuangan, dan kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam hati.

Dan hari itu, seorang guru sedang berhadapan dengan kenyataan yang paling berat,

murid yang disayanginya telah pergi terlebih dahulu.

Dialah Prof. Dr. H. Alaidin Koto, Guru Besar UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Dan murid yang dimaksud adalah Dr. H. Ahmad Rozai Akbar, M.A., mantan Rektor IAITF Dumai pada masanya, disapa panggilan Jai oleh gurunya.

Hubungan keduanya, dari apa yang saya dengar dan saya pahami, bukan lagi sekadar hubungan akademik antara dosen dan mahasiswa.

Ia telah tumbuh menjadi hubungan yang lebih dalam.

Seperti seorang ayah dengan anak.

Seorang guru tidak hanya melihat muridnya sebagai seseorang yang pernah duduk di bangku kuliah.

Guru melihat perjalanan muridnya.

Melihat jatuh bangunnya.

Melihat ketika ia belum menjadi siapa-siapa.

Dan mungkin, melihat sesuatu dalam diri murid yang bahkan belum mampu dilihat oleh murid itu sendiri.

Karena itulah seorang guru terkadang terus mendorong:

“Teruslah berjalan.”

“Jangan berhenti.”

“Bangunlah.”

“Lakukan sesuatu untuk umat.”

Begitulah kiranya Prof. Alaidin kepada muridnya, Ahmad Rozai Akbar.

Ketika IAITF Dumai masih berada dalam perjalanan panjangnya, ketika lembaga ini dahulu masih bernama STAI Tafaqquh Fiddin Dumai, Prof. Alaidin menjadi salah seorang yang ikut memberikan dorongan dan perhatian besar.

Dalam proses pengurusan izin operasional ke Kementerian Agama, beliau yang pada masa itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah UIN Sultan Syarif Kasim Riau terus memantau dan mendorong agar proses tersebut dapat segera diselesaikan.

Bukan hanya dengan kata-kata.

Tetapi juga dengan dukungan nyata, termasuk membantu secara material.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil.

Izin operasional diperoleh.

STAI Tafaqquh Fiddin Dumai dapat menjalankan proses akademiknya.

Dan dari perjalanan panjang itulah, lembaga ini terus tumbuh hingga menjadi Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai (IAITF Dumai) seperti yang kita kenal hari ini.

Mungkin tidak semua orang mengetahui cerita itu.

Tidak semua orang melihat tangan-tangan yang pernah ikut mendorong sebuah lembaga hingga berdiri.

Tidak semua orang tahu berapa banyak nasihat yang pernah diberikan seorang guru kepada muridnya.

Tetapi seorang guru tidak pernah membutuhkan semua orang untuk mengetahuinya.

Cukuplah Allah yang mengetahui.

Dan mungkin itulah kemuliaan seorang guru.

Ia menanam tanpa selalu menunggu disebut.

Ia membantu tanpa selalu meminta dikenang.

Ia mendorong muridnya maju, bahkan ketika dirinya tetap berdiri di belakang layar.

Sampai suatu ketika, murid itu berhasil melangkah jauh.

Dan seorang guru hanya tersenyum dari kejauhan sambil berkata dalam hati:

“Itulah muridku.”


Namun sore ini berbeda.

Tidak ada lagi murid yang datang menghampiri.

Tidak ada lagi suara yang menyapa.

Tidak ada lagi percakapan panjang antara guru dan murid.

Yang tersisa hanyalah kenangan.

Dan mungkin doa.

Sebab begitulah kehidupan.

Kita boleh merancang pertemuan, tetapi Allah yang menentukan perpisahan.

Kita boleh berharap seseorang berjalan bersama kita sampai tua, tetapi Allah memiliki jalan yang tidak selalu mampu kita mengerti.

Dan ketika takdir telah sampai pada waktunya, seorang guru pun harus belajar melepaskan murid yang dicintainya.

Barangkali inilah makna paling dalam dari kalimat:

“Muridku harus pulang terlebih dahulu.”

Pulang...

Bukan karena ia telah selesai dari segala cita-citanya.

Bukan karena perjuangannya telah berakhir.

Tetapi karena Allah memanggilnya pulang.

Dan sang guru, sekuat apa pun cintanya, tidak mampu menahan langkah muridnya.

Ia hanya bisa memandang.

Menahan air mata.

Menyimpan kenangan.

Lalu mengangkat tangan dalam doa:

“Ya Allah, muridku telah mendahuluiku.

Terimalah ia di sisi-Mu.

Ampunilah segala salahnya.

Terimalah amalnya.

Lapangkan tempat peristirahatannya.

Dan jadikan ilmu serta perjuangan yang pernah dilakukannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir.”


Mungkin ada kesedihan yang tidak perlu ditangisi dengan suara.

Cukup mata yang berkaca.

Cukup dada yang sesak.

Cukup sebuah nama yang disebut pelan:


“Jai...”

Dan saya melihatnya sore itu.

Seorang guru sedang mengenang muridnya.

Bukan sekadar mengenang seorang mantan mahasiswa.

Tetapi mengenang seorang anak dalam perjalanan keilmuannya.


Di situlah saya belajar sesuatu.

Hubungan guru dan murid yang dibangun dengan ilmu, ketulusan, dan kasih sayang tidak berakhir ketika ijazah diterima. Bahkan kematian pun tidak serta-merta memutusnya.

Sebab ada ilmu yang terus hidup.

Ada nasihat yang terus bekerja.

Ada perjuangan yang terus dilanjutkan.

Dan ada nama seorang murid yang akan selalu tinggal di hati gurunya.

Hari ini mungkin Ahmad Rozai Akbar telah pergi.

Tetapi jejaknya masih ada.

Di lembaga yang pernah ikut diperjuangkannya.

Di orang-orang yang pernah disentuh pengabdiannya.

Di ilmu yang pernah dipelajarinya.

Dan terutama, di hati gurunya.


Teringat Jai...

Mungkin begitulah seorang guru kehilangan muridnya.

Bukan dengan melupakan.

Tetapi dengan terus mengingat.

Bukan dengan berhenti mencintai.

Tetapi dengan mengubah cinta itu menjadi doa.

Dan bukan dengan berkata, “selamat tinggal.”


Melainkan dengan berbisik:

“Pulanglah, Jai...

Guru akan melanjutkan doa untukmu.

Semoga nanti, di tempat yang Allah janjikan,

kita dipertemukan kembali.

Kali ini bukan lagi sebagai guru dan murid,

tetapi sebagai hamba-hamba Allah

yang sama-sama telah pulang kepada-Nya.”


Al-Fatihah untuk almarhum Dr. H. Ahmad Rozai Akbar, M.A.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilafnya, menerima seluruh amal kebajikannya, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.


Teringat Jai...

Sore itu saya akhirnya memahami:

Kadang-kadang, murid pergi lebih dahulu.

Tetapi cintanya tinggal lebih lama daripada usia.***


*dawami,11malam/12/09/26

0 Response to "Teringat Jai…"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel