Pesan Seorang Ibu
SIANG itu, Rabu, 9 September 2026. Angka sembilan bertemu dengan bulan sembilan, seperti sengaja disusun oleh kalender untuk menjadi hari yang mudah diingat. Kantin Kocek kampus IAITF Dumai tidak terlalu ramai. Beberapa gelas kopi mengepulkan uap, suara sendok beradu dengan cangkir dan percakapan kecil berseliweran di antara meja-meja. Tetapi siang itu terasa berbeda. Ada seorang perempuan yang kedatangannya selalu membuat kami merasa seperti anak-anak yang sedang menunggu ibunya pulang dari perjalanan panjang. Ia adalah Prof. Dr. Hj. Zaitun, M.Ag.
Di kampusnya, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, beliau adalah Ketua Senat. Sebuah jabatan yang tentu saja membuat banyak orang menaruh hormat. Tetapi begitu kakinya menginjak halaman IAITF Dumai, panggilan itu berubah. Bukan lagi Ketua Senat. Bukan pula sekadar profesor. Kami memanggilnya sederhana: Ibu. Dan beliau pun seperti tidak pernah keberatan dengan panggilan itu. Barangkali karena di tempat ini, jabatan-jabatan akademik sejenak kami letakkan di luar pintu. Yang tinggal hanyalah hubungan antara seorang ibu dengan anak-anaknya yang sedang belajar berjalan.
Sejak pukul sembilan pagi, Ibu Prof bersama rombongan sudah berada di kampus. Ada Dr. Musa dan beberapa rekan lainnya. Mereka datang bukan untuk sekadar bertamu. Ada pekerjaan besar yang sedang kami perjuangkan: reviu dokumen akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan satu harapan yang kami simpan dalam-dalam yaitu unggul. Dokumen demi dokumen dibuka. Lembar demi lembar diperiksa. Ada yang harus diperbaiki, ada yang perlu dilengkapi, dan ada pula yang harus kami lihat kembali dengan mata yang lebih teliti serta harus dengan penuh keikhlas harus dibuang. Begitulah pekerjaan akreditasi. Dari luar mungkin hanya terlihat sebagai tumpukan berkas. Bagi kami, di balik setiap berkas itu ada keringat, waktu, perdebatan, rapat dan doa yang tidak sedikit.
Menjelang makan siang, setelah cukup lama membongkar dan memeriksa dokumen, Ibu Prof duduk di kantin Kocek. Biasanya, kopi khas kantin kami yang rasanya mak nyos menjadi teman beliau. Tetapi siang ini, bukan kopi yang datang ke meja. Hanya segelas teh tarik panas. Saya sempat memperhatikan gelas itu. Entah mengapa, hal kecil seperti itu terasa layak dicatat. Mungkin karena dalam sebuah perjalanan panjang, kita sering mengingat bukan hanya apa yang dikatakan seseorang, tetapi juga apa yang diminumnya, di mana ia duduk, bagaimana ia menatap dan kapan ia tersenyum.
Lalu, di antara percakapan tentang dokumen dan pekerjaan yang belum selesai, keluarlah kalimat yang kemudian melekat di kepala kami.
“Pada waktunya, kita akan sampai pada level juga akan dinilai orang.”
Kalimat itu sederhana, tetapi seperti mengetuk pintu hati kami satu per satu. Ibu Prof kemudian mengingatkan agar kami menghargai kerja orang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
“Tentulah dengan tidak membongkar aibnya, maka Allah SWT juga akan jaga aib kita,” katanya. Saya diam. Ada nasihat yang tidak perlu diberi tepuk tangan. Cukup disimpan, lalu dibawa pulang.
Kehadiran Ibu Prof hari itu memang memiliki tujuan yang jelas yaitu melihat dan menuntun kami memeriksa dokumen pengajuan akreditasi PAI. Setelah melihat kembali pekerjaan kami, kalimat yang kami tunggu akhirnya keluar juga. “Insyaallah PAI bisa unggul.”
Sesingkat itu. Namun bagi kami yang berbulan-bulan bergelut dengan dokumen, kalimat itu seperti hujan pertama setelah kemarau. Hati tim akreditasi berbunga-bunga. Ada rasa lega yang ingin segera dirayakan, tetapi kami tahu, perjalanan belum selesai. Masih ada submit berkas, pembayaran, telaah asesor, kemungkinan peninjauan lapangan, dan sejumlah tahapan lain yang menunggu di depan.
Sebagai Ketua LPM IAITF Dumai, tentu saya merasa senang mendengar keyakinan itu. Tetapi rasa senang tersebut saya simpan terlebih dahulu. Saya tidak ingin terlalu cepat berpesta sebelum sampai di garis akhir. Perjalanan menuju unggul masih panjang. Sebab akreditasi bukan sekadar tentang berkas yang rapi. Ia adalah pertanggungjawaban atas kerja akademik yang harus dibangun, dijaga, dan dibuktikan. Saya teringat masa-masa awal ketika dipercaya menjadi Ketua LPM. Rasanya seperti seseorang yang tiba-tiba diminta masuk ke sebuah hutan yang lebat, sementara peta belum selesai digambar. Kami berjalan sambil mencari arah. Kadang tersesat, kadang berhenti, lalu kembali berjalan.
Hari ini pun kami belum sempurna. Tetapi setidaknya jalan itu sudah mulai terlihat. Budaya kerja akademik perlahan tumbuh. SPMI mulai menjadi kebiasaan. AMI, monev, SOP, buku panduan dan berbagai dokumen yang dahulu terasa asing kini menjadi teman sehari-hari. Bahkan ada buku panduan yang mungkin sudah lebih sering kami lihat daripada wajah sendiri.
Ada yang bercanda, “Buku ini sudah bisa dibawa tidur.” Saya tertawa. Memang begitulah pekerjaan yang sedang kami jalani. Kadang melelahkan, tetapi ketika melihat sedikit demi sedikit perubahan, lelah itu terasa memiliki harga.
Di sela-sela melihat dan mengedit langsung berkas di layar televisi, sekitar pukul tiga sore, Ibu Prof tiba-tiba bercerita.
“Dah lama ingin nak minum es dawet,” katanya.
Kami tertawa. Rupanya keinginan itu sudah lama ada. Di Pekanbaru, katanya, pernah terlintas hendak berhenti membeli es dawet. Tetapi mobil tidak jadi berhenti karena jalan sedang macet.
“Di Pekanbaru mau beli, ingat mau berhentikan mobil, tak jadi. Macet,” ungkapnya. Dan akhirnya, perjalanan ke Dumai justru mempertemukannya dengan es dawet yang ia inginkan. Kadang memang begitu. Ada keinginan kecil yang tertunda di satu tempat, lalu dipertemukan Allah di tempat lain.
Setelah pembahasan dokumen akreditasi selesai dan sore mulai beranjak, saya pun menggunakan kesempatan yang mungkin tidak datang setiap hari itu untuk menyampaikan satu urusan yang sangat pribadi. Di antara kesibukan tim mempersiapkan berkas akreditasi, saya sendiri sedang berada di persimpangan perjalanan akademik yang lain, menuju ujian tertutup program doktor. Untuk mendaftar ujian tertutup, masih ada satu persyaratan yang harus saya selesaikan yaitu acc dari beliau sebagai promotor.
Saya mendekat dengan sedikit perasaan sungkan. Ada rasa seperti seorang mahasiswa yang membawa hasil pekerjaan rumah kepada dosennya. Saya menyampaikan maksud dan memperlihatkan apa yang perlu diperiksa. Ibu Prof melihatnya. Saya menunggu. Barangkali bagi orang lain, persetujuan itu hanya sebuah tanda tangan atau sebuah kata “ya”. Tetapi bagi saya, ia adalah satu pintu yang harus dibuka agar langkah berikutnya dapat dimulai.
Lalu, Ibu Prof memberikan dorongan yang membuat hati saya kembali menyala.
“Semangat dan segera daftar ujian tertutup. Biar bulan Oktober bisa ujian. Semester depan bisa terbuka.”
Saya terdiam sejenak.
Kalimat itu sederhana, tetapi rasanya seperti seseorang yang berdiri di belakang kita lalu berkata, “Teruskan. Sedikit lagi.” Di tengah kesibukan beliau membimbing kami memperjuangkan akreditasi unggul PAI, beliau masih menyempatkan diri melihat perjalanan akademik saya. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Sebab perjalanan doktoral ini pun tidak selalu mudah. Ada masa ketika tulisan terasa buntu, penelitian terasa panjang dan langkah seperti berjalan sendirian. Tetapi sore itu, sebuah acc dan beberapa kalimat penyemangat terasa seperti bekal baru.
Saya menyimpan kalimat itu baik-baik.
Biar bulan Oktober bisa ujian. Semester depan bisa terbuka. Insyaalah
Mungkin memang begitulah seorang guru bekerja. Ia tidak selalu memberikan jawaban atas semua persoalan. Kadang ia hanya memberikan satu kalimat yang membuat kita berani melangkah lagi.
Sore semakin tua. Sekitar pukul lima, pekerjaan terpaksa kami hentikan. Bukan karena semua dokumen telah selesai, melainkan karena listrik padam dan hujan turun dengan lebat. Kilat sesekali membelah langit Dumai. Suara hujan memenuhi ruang-ruang kampus. Seakan alam sendiri sedang memberi tanda bahwa hari kerja kami harus berhenti sejenak. Kami masih memiliki banyak pekerjaan, tetapi hari itu telah memberi sesuatu yang lebih dari sekadar hasil reviu dokumen.
Sebelum meninggalkan kampus, Ibu Prof kembali berpesan kepada kami, “Ibu bangga dengan kegigihan tim di IAITF Dumai. Apalagi masih muda-muda. Jangan lewas puas dan jangan menyerah, ya?”
Kalimat itu terasa lebih hangat daripada teh tarik yang diminumnya siang tadi. Sekitar pukul setengah enam, mobil yang membawa beliau dan rombongan mulai bergerak meninggalkan halaman IAITF Dumai, kembali menuju Pekanbaru. Kami berdiri memandang kendaraan itu menjauh. Ada rasa lega, ada rasa haru, dan ada pula pekerjaan yang kembali menunggu di meja.
“Terima kasih atas segala ilmunya, Ibu Prof. Sehat selalu dalam keberkahan.”
Mobil itu semakin jauh. Hujan masih menyisakan titik-titik air di halaman kampus. Layar televisi memang sudah mati tapi masih terbayang dokumen akreditasi yang belum semuanya selesai. Meja-meja masih dipenuhi berkas. Besok pekerjaan akan dimulai lagi.
Dan entah mengapa, sore itu saya merasa mendapatkan dua bekal sekaligus.
Untuk IAITF Dumai, kami membawa pulang keyakinan bahwa PAI insyaallah bisa unggul.
Untuk diri saya sendiri, saya membawa sebuah acc dan satu pesan yang harus segera saya tunaikan:
“Semangat. Segera daftar ujian tertutup. Biar Oktober bisa ujian. Semester depan bisa terbuka.”
Barangkali suatu hari nanti, ketika semua itu telah menjadi masa lalu, saya akan mengingat kembali Rabu, 9 September 2026, hari ketika di antara tumpukan dokumen akreditasi, secangkir teh tarik, segelas besar platik es dawet, hujan dan kilat, seorang ibu akademik bukan hanya membantu kami mencari jalan menuju unggul, tetapi juga mendorong salah seorang anaknya untuk menyelesaikan satu lagi perjalanan panjang bernama doktor.
Dan malam itu, saya tahu satu hal:
Perjalanan belum selesai. Tetapi jalan pulang sudah diberi arah. ***
*Dawami,jm11malam/09/09/26
0 Response to " Pesan Seorang Ibu"
Posting Komentar