Bara'an Raya Idul Fitri dan Histori Masa KecilKU di Bukit Batu


JAM lama di dinding rumah Mak di Desa Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, masih setia meraut kenangan dan kini baru menunjukan jam 06.00 WIB, Sabtu (21/3/2026). Kami sudah siap-siap untuk kumpul keluarga di rumah kakakKu. Habis kumpul keluarga saling bermaaf-maafan langsung ke Masjid Arrosyidin Bukit Batu. Jam 07.30 Wib sesuai pengumuman akan dilaksanakan Shalat Sunat Idul Fitri berjamaah.

https://dawamikomunikasi.blogspot.com/2026/03/filosofi-tradisi-budaya-agama-baraan.html

Lebaran di kampung sangat terasa, suara takbiran Idul Fitri dari dua masjid syarat kenangan dan makna dalam ingatan. Teringat mak, bapak dan dua kakakKu lebih dulu meninggalkan kami dan selalu heboh yaitu Mak Long dan Mak Yu (Hj Zainab Binti Busri dan Hj Rusmini Binti Busri 'Red) begitu kami memanggilnya. Dan teringat abangKu, H Muzaid sudah jadi orang Melaka semoga sehat selalu diusia tuanya.

Terbayang pula, bagaimana dua masjid ini dalam menanamkan spritual keagamaan. Pertama, Masjid Arrosyidin Bukit Batu adalah nama masjid diambil dari nama seorang guru agama dikampung kami selalu dipanggil guru Rosyid atau orang kampung kami juga memanggilnya pak guru. Dari masjid ini aku belajar mengaji dengan guru agama. Ada mbak, Imam Khusin Hasan Istat, pak Sahid dan para mbahKu menanamkan shalawatan yang selalu menghiasi setiap jedah sebelum dan sesudah shalat.

 

Satu lagi Masjid Jamik Alhaq, orang kampung kami selalu menyebutnya Masjid Datuk terletak di Desa Sukajadi dekat Parit Engka. Waktu masih kecil dulu saya sering shalat disini. Ada ijun, botok, Ipin dll jadi kawan. Dari rumah mak, kira-kira 10 menit. Tapi kadang 'perau'nya lebih panjang lagi baru sampai masjid. Dinamakan Masjid Datuk, memang dimasjid ini dijadikan tempat pusat dakwah pada zaman kejayaan Datuk Laksamana Raja Dilaut. Di masjid ini ada beberapa situs sejarah selain masjid. Ada makam Datuk Laksamana Raja Dilaut Ali Akbar dan Makam Orang Kaya Noneng, serta beberapa makam kerabat Datuk lainnya.

Termasuk makam mbah kami, mbah Rais dan mbak Sakirah juga dimakamkan disini sebagai bentuk penghormatan atas jasanya sebagai orang dekat kepercayaan datuk dan hulubalang handal dan setia. Beberapa barang menyertai keberaniannya, sebagai cucu aku pernah melihatnya yang paling berkesan adalah batu hitam atau dia selalu menyebutnya dengan batu bintang. Kalau main bola terkilir maka selalu digunakan untuk mengobatinya dengan cukup digosok. Rasanya dingin dan alhamdulilah bengkaknya hilang dan sakitnya juga hilang. Begitu dia meninggal dunia, batu hitam ini pun tak tahu entah kemana.

Selain itu, didepan masjid, ada sebuah sumur tua jadi tempat berwuduk, panjang dan lebarnya lebih kurang 3 meter dan dalamnya 2 meter. Tapi sumur ini, sekarang sudah tidak digunakan lagi. Hanya saja memang waktu kecil, kami selalu juga mandi disumur ini, walaupun tak diizinkan. Dan kalau nampak Alm Ngah Hamid (GuruKu ngaji berlagu dengan lampu strongkeng, bayaran cukup dengan bawa minyak tanah secara bergiliran satu botol semoga alam kuburnya dilapangan Allah SWT'red) dan Wak Maksyih, kami menceceng berlari dan kapan-kapan buat lagi. Soal airnya memang seperti air sumur di bukit batu pada umumnya, payau. Dipikir-pikir sekarang, dapat juga berkah dari sumur ini. Tersebab tentulah Sultan Siak, apalagi Datuk tentu juga ngambil wuduk disini juga. Berkahnya tentulah air dan sumur ini memiliki makna nilai tinggi dalam membuat garis lurus bagi sejarah warisan kepada generasi selanjutnya. Tinggal dirawat dan dijaga, jika perlu diberi nilai tambah sehingga makna dan nilai yang sudah ada, dapat terus diwariskan. Bahwa  Sultan-sultan Siak dan Datuk Laksamana Raja Dilaut pernah berwuduk, mencuci kaki dan menggunakan sumur ini sebagai sarana mengkomunikasikan diri secara ilahiah kepada sang Kholik semoga nilai spritual ini bisa diambil, walaupun sudah ada air sumur bor.

***

Jam 07.20 WIB saya dan keluarga sudah sampai di masjid kampung kami, Masjid Arrosyidin Bukit Batu. Dulu masjid ini berada pada wilayah dusun bernama Dusun Banyumas dan sekarang bernama Dusun Bukit Batu Darat. Tepatnya berada di jalan lintas Sungai Pakning-Dumai, Desa Bukit Batu. 

Tepat pukul 07.30 WIB, Shalat IED pun dimulai. Diawali dengan takbir, kemudian Bilal memberikan aba-aba akan dimulai shalat berjamaah yang dipimpin imam muda. Tidak lain adalah ponaanKu. Suaranya bagus, mahrad hurufnya juga dan hingga selesai shalat dilanjutkan Khotib naik mimbar. Hingga tepat pukul 09.10 WIB, shalat selesai dilanjutkan saling bermaafatan, tahlil doa bersama untuk para arwah. Baru sekitar pukul 09.40 dilaksanakan budaya agama di kampung kami diberi nama bara'an. Atau disebut juga dengan rombongan dari rumah ke rumah. Sebagai bentuk tanda syukur dan saling silaturahmi menjaga ukhuwah kebersamaan dalam balutan budaya agama yang membahagiakan 

***

Tradisi atau budaya agama Bara'an menjadi salah satu nilai yang hingga kini masih terwariskan dan dijaga hingga kini. Bagi kami yang tinggal kini diluar atau merantau,  budaya agama ini sangat membahagiakan dan sangat terasa balek kampong serta dirindukan.  Setiap tahun dan terkadang 2 tahun sekali ikut bara'an maka selalu ada yang berubah, terutama yang datang dan juga pergi. Yang datang, penambahan rumah dan warga. Yang pergi begitu pula kalau tahun lalu masih ada uwak, nbah, paman, bibi atau sahabat maka tahun ini sudah tidak bisa bersama lagi. Apalagi pola bara'an adalah bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Mau disiapkan kue atau makanan atau mau senang atau bercukupan maka tetap dikunjungi. Paling penting adalah tuan rumah bersedia dikunjungi atau disilaturahmi.

Demikian pola gilirannya, dimana setiap tahun digilirkan. Untuk tahun ini, begitu turun dari masjid usai shalat IED maka rombongan menaiki rumah dibagian hilir dan baru di hari kedua giliran rumah sebelah hulu  Batasan gilirannya juga mudah yaitu dibatas sebuah parit yang orang kampung kami menyebutnya dengan Parit Banyumas. Kenapa namanya Parit Banyumas juga nanti akan dijelaskan. Tapi yang jelas dari parit inilah menjadi pembatas rombongan dan juga parit ini menjadi saksi masa kecilKU bersama kawan segenerasi. Diantara paling berkesan kalau sudah mandi di parit ini terkadang-kadang kami selalu lupa nak balek dan kalau dah dimarah Alm Bang Karim (Semoga dilapangkan alam kuburnya'Red) barulah kami berlari dengan tidak sempat lagi memakai baju. 

Selain itu, paling seru lagi kami selalu menemukan emas kecil-kecil ada dalam bentuk  cincin, subang telinga dan yang sejenisnya kalau menyelam sampai dasar parit. Di parit ini dulu ada pohon berembang besar maka dari pohon berembang inilah kami terjun secara bergiliran. Banyak lagi cerita menyertai generasi kami yang tak bisa dilepaskan dengan Parit Banyumas. Pohon berembang besar itu sudah tidak ada lagi dan parit ini pun sudah tidak seramah masa kecil-kecil dulu. Tapi dari sinilah kami mengenal ekosistem parit, sungai, suak, tanjung dan laut. Air darat, air payau dan air asin. Dari sinilah kami dibesarkan, ada buah tembatu, buah senderas, buah berembang. Ular bakau, ular air, ular lidi, ular manau dan ikan jolong, ikan buntal, ikan belukang, ikan duri, ikan lundu kemudian ada ikan sepat, ikan lele dan banyak lagi. 

Tapi yang jelas hingga hari ini, Parit Banyumas menjadi pembatasan romatika wilayah hulu dan hilir, itulah Bukit Batu Darat.  Selain juga ada Bukit Batu Laut dan Parit Rodi serta satu dusun lagi bernama Teluk Belango, selalu disebut juga dari dulu sebagai daerah sentra pertanian atau daerah Datuk dan semuanya berada dalam wilayah Desa Bukit Batu. 

Di daerah Teluk Belango juga terdapat dua situs sejarah berharga tentang Kelaksamanan Raja Dilaut membuktikan  tapak sejarah keperkasaannya di Selat Bengkalis, Selat Rupat dan Selat Melaka ini bukan sebuah dongeng yaitu pertama di daerah Pangkalan Gajah dikebumikan Datuk Laksamana Sri Maha Raja Lela Setia Diraja (Datuk Ibrahim) dan anaknya Panglima Umar yang gagah perkasa pemegang Keris Tabe Alam setelah meninggalnya ayahnda Datuk Ibrahim juga bergelar Panglima Dalam diserahi tugas sebagai kepala panglima. Kedua, di Teluk Belangko juga ada situs makam Datuk Laksamana Raja Dilaut (Datuk Khamis'Red) oleh ayahndanya Datuk Ibrahim diserahi Keris Tuasik berperan sebagai kepala pemerintahan. Dahulu kalau mau ke Dusun Teluk Belango maka kami harus bersampan menyeberangi Sungai Bukit Batu. Tapi kini sudah bisa lewat darat dengan sedikit memutar dari Jembatan Sungai Bukit Batu berada di daerah Sungai Musuh, Desa Sukajadi. Dari jembatan ini dalam jarak lebih kurang 3 KM masuk dalam wilayah Desa Parit Satu Apiapi ada simpang sebelah kanan maka dari sinilah kita bisa berziarah kedua situs tersebut.  

Sebelum itu, tepatnya di jalan lintas Sungai Pakning-Dumai akan melewati situs makam Tuanku atau Datuk Gigi Putih (Guru Silat dan Spritual Datuk Khamis'red). Disebabkan kondisi jalan maka belum bisa masuk dengan memakai mobil, tapi cukup dengan sepedamotor. Tapi daerah ini masih penuh rahasia, masih banyak belum terungkap. Walaupun sejak kecil, kami hanya mengenalnya sebagai daerah subur untuk pertanian. Tapi kapan-kapan kami bisa melihat langsung dari bibir pantai Telok Belangko, bagaimana Tanjung Jati dari sini, Selat Melaka dan kapal-kapal yang melewati Selat Bengkalis maka daerah ini tidak hanya menjadi daerah pertanian tapi lebih dari itu dan bisa jadi juga masih situs-situs sejarah seperti makam dan lainnya berada di Daerah Teluk Belango. Ayo, kita lihat di google map maka sangat strategis sebagai daerah pertahanan. ***bukitbatu02.00wib

Maaf Lahir dan Bathin 1447 Hijriah dan 2026 Masehi. Semoga

*Dawami Bukitbatu, Dosen IAITF Dumai, Jurnalis Senior Wartawan Utama, Pegiat Lingkar Pojok Literasi.


0 Response to "Bara'an Raya Idul Fitri dan Histori Masa KecilKU di Bukit Batu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel