Dari Tiga Pintu Masuk Masjid Raya dengan Satu Jalan Pulang (Catatan Perjalanan Akademik Tamaddun Melayu IAITF Dumai di Kota Pekanbaru)



PERJALANAN ini bukan sekedar perjalan ilmu, tapi sebuah langkah mengemas masa depan dari aura pijak masa lalu. Pukul 06.30 pagi, Kamis (18 Desember 2025) ketika cahaya subuh mulai surut dari langit Dumai, satu per satu mahasiswa menaiki bus, laksana awak kapal yang bersiap menempuh pelayaran panjang menyusuri arus sejarah. Deru mesin menjadi aba-aba keberangkatan dan pada pukul 07.00 absensi dilakukan, bukan sekadar mencatat nama, tetapi menandai kesiapan jiwa untuk menyelami perjalanan ilmu. Jalanan yang dilalui terasa seperti jalur laut lama, menghubungkan pesisir, sungai dan daratan Melayu. Setiap kilometer adalah gelombang waktu, membawa rombongan meninggalkan masa kini menuju lapisan-lapisan masa silam. Bus melaju perlahan, membelah pagi dengan doa yang tak terucap namun terasa menggantung di udara. Ini bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan pelayaran pengetahuan yaitu mengikat generasi hari ini dengan sejarah Islam dan Melayu yang berakar kuat di tanah Riau.

Sekitar pukul 10.15, rombongan sudah tiba di Masjid Raya Pekanbaru, sebuah dermaga spiritual yang menyimpan kisah hampir satu abad. Masjid ini awalnya berdiri di atas tanah ladang seluas 8x9 depa yang pada tahun 1923 disumbangkan oleh sepasang suami istri, Haji Muhammad dan Hajjah Sadiah. Mereka adalah saudagar yang berlayar bolak-balik antara Senapelan dan Kedah, membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga iman dan visi peradaban. Pada tahun 1927, batu pertama diletakkan untuk membesarkan masjid dengan arsitek bangunan bernama Syekh Sulaiman dari India, dengan biaya pembangunan mencapai 18.700 gulden, jumlah besar pada masanya. Tahun 1930, masjid rampung sedangkan masyarakat yang berkerja diupah dengan syirup dan roti, tanda syukur sederhana namun bermakna. Masjid ini menjadi saksi pertemuan iman, perdagangan dan kebudayaan lintas samudra.

Arsitektur masjid seakan berlayar melintasi zaman. Selasar yang diperluas pada 1971 dan kubah bulat yang menyerupai gasing ditambahkan pada 2008 di masa Pj Wali Kota Nasrun Efendy, menunjukkan bagaimana bangunan ini terus hidup mengikuti arus waktu. Banyaknya tiang masjid menyiratkan kekokohan, namun empat tiang penyangga lama masih berdiri teguh, menjaga mihrab lama sebagai penanda arah sejarah. Mimbar masjid, hadiah dari Sultan Siak ke-11 pada 1892, dibangun tanpa paku, hanya pasak kayu, mencerminkan kearifan teknik tradisional. Gerbang masjid yang dibangun tahun 1940 memiliki tiga lubang pintu, seolah tiga jalur masuk menuju makna yaitu iman, ilmu dan amal. Setiap sudut masjid bukan sekadar benda mati, melainkan catatan perjalanan spiritual masyarakat Melayu Islam.

Di halaman masjid terdapat sumur tua yang tak pernah kering, dikaitkan dengan Syekh Sulaiman dan bagian dari wakafnya, sebuah simbol keberkahan yang mengalir melampaui musim. Juru pelihara masjid mengatakan komplek ini dikenal sebagai Marhum Pekan, yang juga terkait dengan perkuburan Bukit pada 1929. Di sekitar masjid terdapat kompleks makam raja dan tokoh penting, seperti Marhum Pekan, Tengku Muhammad Ali serta Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Catatan didapat dari masjid menyebutkan hari Selasa, 21 Rajab 1174 Hijriah, sebagai penanda penting dalam sejarah masjid ini. Nama-nama seperti Datuk Putih dari Dusun Batu Gajah dan catatan Fatimiyah dari Siak Lama muncul seperti buih di permukaan sungai sejarah, memperlihatkan bagaimana masjid ini menjadi simpul ingatan kolektif umat Islam di Pekanbaru.

Sejarah kemudian membawa kami lebih jauh ke hulu waktu, menyusuri kisah Indrawarman, Raja Parameswara dan  Megat Kudu. Megat Kudu setelah memeluk Islam, ia dikenal sebagai Sultan Ibrahim sebuah perubahan identitas yang menandai peralihan peradaban. Dalam semangat sukacita dan keyakinan baru, ia menyerang wilayah Siak (Siak Lama 'red), meneguhkan Islam sebagai dasar kekuasaan. Pada abad ke-14, Kerajaan Petapahan muncul, dengan tokoh-tokoh seperti Syekh Ma’un dan Ratu Safiah sekitar tahun 1723, seiring berdirinya Kerajaan Siak (Siak masa Raja Kecik 'red). Nama-nama tempat seperti Senapelan dan Tenayan menjadi saksi pengembangan suku dan masyarakat. Semua ini terasa seperti pelayaran panjang kerajaan-kerajaan Melayu, berlayar dari satu muara ke muara lain, membawa panji Islam sebagai kompas utama.

Pada abad-abad berikutnya, tokoh-tokoh ulama menjadi nahkoda ruhani kerajaan. Syekh Ahmad Badawi, Datuk Mayang Pembilang, hingga Syekh Raup Al Sengkilin menjadi penerang umat. Syekh Ahmad Badawi, Datuk Mayang Pembilang yang makamnya dekat Masjid Habibullah, memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu. Pada abad ke-16, Raja Hasan berkuasa, sementara catatan dalam buku Nota Unrech menyebut Syekh Umar Asgraf sebagai Tuan Besar Siak. Said Usman, guru agama kerajaan, mengajarkan fikih dan tasawuf, mengikat kekuasaan dengan spiritualitas. Mereka bukan hanya ulama istana, tetapi pelaut ilmu yang menyeberangkan ajaran Islam dari kitab ke kehidupan sehari-hari. Sejarah ini mengalir seperti sungai besar, membawa nilai, etika, dan kebijaksanaan ke generasi berikutnya.

Dari masjid, perjalanan berlanjut ke rumah tenun dan rumah Tuan Kadi, tempat adat dan hukum Islam bersua. Di sana, benang-benang sejarah ditenun menjadi identitas Melayu yang utuh antara syariat dan budaya. Menjelang siang, rombongan menunaikan shalat, lalu bersantap bersama. Sepedas patin dan ayam kecap tersaji, sederhana namun sarat makna kebersamaan. Makan siang ini bukan sekadar mengisi perut, tetapi mempererat ikatan, sebagaimana pelaut yang berbagi bekal di tengah lautan. Sekitar pukul 13.30, perjalanan kembali dilanjutkan, meninggalkan jejak aroma rempah dan percakapan hangat, menuju lembaga adat yang menjadi penjaga nilai-nilai Melayu Riau.

Lembaga Adat Melayu Riau di Jalan Diponegoro menjadi pelabuhan berikutnya. Di tempat ini, adat dipelihara seperti peta laut tua dimaa menjadi panduan agar perahu peradaban tidak karam. Diskusi, pengamatan, dan perenungan menyatu dalam kesadaran bahwa adat dan Islam di Riau tidak berjalan terpisah, melainkan saling menguatkan. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke kawasan Asia Farm, Tenayan Raya, menyaksikan wajah modern Pekanbaru yang tumbuh di atas fondasi sejarah panjang. Sore menjelang, cahaya matahari menurun seperti layar yang perlahan diturunkan, menandai transisi dari siang ke malam dalam pelayaran ini.

Sekitar pukul 18.30, rombongan singgah di salah satu pusat oleh-oleh Pekanbaru. Di sana, setiap barang adalah kenangan yang dikemas dengan rasa, aroma dan cerita. Perjalanan kemudian berlanjut ke Mall SKA Pekanbaru, simbol denyut urban yang berdampingan dengan warisan tradisi. Kontras ini justru memperkaya pengalaman, menunjukkan bahwa Pekanbaru adalah kota yang berlayar di dua arus: modernitas dan sejarah. Malam semakin larut, namun semangat belum surut. Cahaya lampu kota menggantikan cahaya bintang, mengiringi perjalanan pulang yang panjang.

Pukul 22.00 malam, bus bergerak kembali menuju Dumai melalui jalan tol Pekanbaru–Dumai (Permai). Jalan lurus membelah gelap, seperti jalur pelayaran malam di laut terbuka. Keheningan mulai menyelimuti bus, mahasiswa terlelap dengan pikiran yang masih berlayar di antara masjid, raja, ulama, dan adat. Sekitar pukul 02.00 dini hari, rombongan tiba di Dumai Islamic Center. Perjalanan usai, namun pelayaran pengetahuan belum berakhir. Sejarah yang disinggahi hari itu kini berlabuh di ingatan, siap diolah menjadi kesadaran dan hikmah. Seperti pelaut yang kembali ke darat, kami pulang membawa muatan berharga: jejak peradaban Islam Melayu yang terus hidup, mengalir, dan menunggu untuk terus diceritakan kembali. ***

Penulis: Dawami Bukitbatu, Dosen IAITF Dumai, Jurnalis Senior, Pegiat Lingkar Pojok Literasi.

0 Response to "Dari Tiga Pintu Masuk Masjid Raya dengan Satu Jalan Pulang (Catatan Perjalanan Akademik Tamaddun Melayu IAITF Dumai di Kota Pekanbaru)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel