BAB I PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

 


BAB I

PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

 

A. Pendahuluan  

Sosiologi dan antropologi merupakan dua disiplin ilmu sosial yang memiliki peran penting dalam memahami realitas pendidikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Pendidikan tidak berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya, nilai, serta norma yang hidup dalam masyarakat (Berger & Luckmann, 1966). Sosiologi membantu kita memahami bagaimana institusi pendidikan berfungsi dalam sistem sosial, bagaimana stratifikasi sosial mempengaruhi akses dan keberhasilan pendidikan, serta bagaimana interaksi sosial di sekolah membentuk identitas dan perilaku peserta didik (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Sementara itu, antropologi memberikan sudut pandang yang lebih dalam terhadap makna pendidikan sebagai proses kebudayaan, di mana nilai-nilai, simbol, dan praktik sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Eriksen, 2015). Melalui pendekatan sosiologis dan antropologis, pendidikan dapat dipahami bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai upaya reproduksi sosial dan budaya.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, keterkaitan antara sosiologi dan antropologi menjadi semakin relevan ketika kita melihat keragaman sosial dan budaya bangsa. Sistem pendidikan nasional beroperasi dalam masyarakat yang majemuk, dengan berbagai latar belakang etnis, bahasa, agama, dan tradisi (Tilaar, 2002). Hal ini menuntut pendidik dan calon pendidik untuk memiliki sensitivitas sosial dan budaya yang tinggi agar dapat berinteraksi secara efektif dengan peserta didik dari berbagai kelompok sosial. Sosiologi pendidikan membantu memahami bagaimana struktur sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan belajar, sedangkan antropologi pendidikan memperkaya pemahaman tentang bagaimana peserta didik menafsirkan pengalaman belajar sesuai konteks budaya mereka masing-masing (Spradley & McCurdy, 2016). Dengan demikian, kedua disiplin ini saling melengkapi dalam upaya membentuk pendidikan yang inklusif, adil, dan berkeadaban.

Selain sebagai kajian teoritis, sosiologi dan antropologi pendidikan juga berfungsi sebagai dasar analisis terhadap praktik dan kebijakan pendidikan. Melalui perspektif sosiologi, kita dapat menelaah bagaimana lembaga pendidikan berperan dalam mempertahankan atau mengubah struktur sosial, misalnya melalui kurikulum, manajemen sekolah, dan hubungan guru-murid (Sadovnik, 2011). Sementara itu, pendekatan antropologi memungkinkan peneliti memahami “dunia kehidupan” (lifeworld) peserta didik, termasuk bagaimana nilai-nilai budaya, bahasa, dan ritual lokal membentuk pengalaman belajar mereka (Geertz, 1973). Dalam praktiknya, integrasi kedua pendekatan ini dapat memperkuat desain pembelajaran yang relevan secara sosial dan bermakna secara budaya, terutama dalam pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan masyarakat madani.

Pemahaman mendalam terhadap sosiologi dan antropologi pendidikan menjadi landasan penting bagi mahasiswa calon pendidik, agar mampu melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses pedagogis, tetapi juga sebagai fenomena sosial dan budaya yang kompleks. Melalui kajian ini, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis dinamika hubungan antara individu, masyarakat, dan kebudayaan dalam konteks pendidikan; memahami bagaimana sistem sosial memengaruhi akses dan kualitas pendidikan; serta menumbuhkan kesadaran kritis terhadap keberagaman sosial-budaya di lingkungan belajar (Bourdieu & Passeron, 1977). Oleh karena itu, pengantar sosiologi dan antropologi pendidikan ini disusun untuk memberikan pemahaman konseptual, teoritis, dan praktis agar mahasiswa mampu mengintegrasikan wawasan sosial-budaya dalam praktik kependidikan yang berkeadilan, berempati, dan berorientasi kemanusiaan.

B.  Pengertian Sosiologi dan Antropologi  

Sosiologi berasal dari kata socius (Latin: kawan, masyarakat) dan logos (Yunani: ilmu), yang secara harfiah berarti “ilmu tentang masyarakat.” Auguste Comte, yang dikenal sebagai bapak sosiologi, pertama kali menggunakan istilah ini pada abad ke-19 untuk menandai lahirnya disiplin ilmiah yang mempelajari masyarakat secara sistematis dan empiris (Comte, 1974). Sosiologi bertujuan untuk memahami struktur sosial, pola interaksi, lembaga sosial, dan proses perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia (Giddens, 2013). Ia berfokus pada bagaimana individu berperilaku sebagai anggota masyarakat, serta bagaimana struktur sosial membentuk dan dipengaruhi oleh tindakan manusia (Weber, 1978). Dalam konteks pendidikan, sosiologi membantu menjelaskan hubungan timbal balik antara lembaga pendidikan dan masyarakat—bagaimana sekolah mencerminkan, memelihara, atau bahkan mengubah struktur sosial yang ada (Durkheim, 1956; Sadovnik, 2011).

Sosiologi tidak hanya berupaya mendeskripsikan fenomena sosial, tetapi juga memahami keteraturan sosial (social order) serta dinamika konflik dan perubahan sosial. Karl Marx melihat masyarakat sebagai arena pertarungan kelas yang menentukan distribusi kekuasaan dan sumber daya (Marx & Engels, 1970). Max Weber menambahkan bahwa tindakan sosial merupakan hasil makna subjektif yang dimiliki individu dalam konteks sosial tertentu. Sementara Émile Durkheim menekankan pentingnya fakta sosial yang bersifat eksternal dan memaksa individu untuk berperilaku sesuai norma masyarakat (Durkheim, 1956). Ketiga tokoh ini memberikan dasar teoretis bagi analisis pendidikan, di mana sekolah dipandang sebagai cerminan dari relasi kekuasaan, nilai-nilai sosial, dan sistem norma yang menata kehidupan bersama (Bourdieu & Passeron, 1977). Oleh sebab itu, sosiologi pendidikan berkembang sebagai cabang khusus yang mengkaji pendidikan sebagai institusi sosial dengan peran strategis dalam pembentukan masyarakat.

Sementara itu, antropologi berasal dari kata anthropos (Yunani: manusia) dan logos (ilmu), yang berarti “ilmu tentang manusia.” Antropologi menelaah manusia dari berbagai aspek—biologis, sosial, kultural, dan simbolik—dalam ruang dan waktu (Eriksen, 2015). Disiplin ini tumbuh dari semangat memahami keberagaman manusia dan kebudayaannya, khususnya melalui penelitian lapangan yang mendalam (ethnography) (Geertz, 1973; Spradley, 2016). Antropologi memandang kebudayaan sebagai sistem makna yang dibangun dan diwariskan oleh manusia untuk memberi arah pada kehidupan sosial mereka. Dengan demikian, antropologi berusaha menjelaskan bagaimana manusia memahami dunia, mengorganisasi pengalaman, serta menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui simbol, nilai, dan praktik budaya (Kottak, 2015). Dalam konteks pendidikan, pendekatan antropologi membantu menjelaskan bagaimana proses belajar dan mengajar selalu dipengaruhi oleh latar budaya, serta bagaimana pendidikan menjadi sarana pewarisan dan transformasi budaya antar generasi (Spindler & Spindler, 1987).

Dalam praktiknya, sosiologi dan antropologi memiliki perbedaan fokus, namun keduanya saling melengkapi dalam memahami realitas sosial. Sosiologi cenderung menyoroti struktur sosial yang luas—seperti sistem kelas, stratifikasi sosial, dan institusi sosial—sedangkan antropologi lebih menekankan pemahaman mendalam terhadap kehidupan manusia dalam konteks budaya tertentu (Eriksen, 2015). Sosiologi menjawab “bagaimana masyarakat bekerja,” sementara antropologi menjawab “mengapa manusia berperilaku demikian dalam konteks budayanya.” Dalam pendidikan, perspektif sosiologi membantu mengidentifikasi masalah ketimpangan sosial, hubungan kekuasaan, serta peran lembaga pendidikan dalam mobilitas sosial. Sedangkan antropologi membantu memahami bagaimana nilai, bahasa, simbol, dan kebiasaan lokal memengaruhi interaksi belajar dan persepsi tentang pendidikan itu sendiri (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Sinergi antara kedua disiplin ini menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap pendidikan sebagai sistem sosial dan proses kebudayaan yang dinamis.

Penerapan sosiologi dan antropologi dalam bidang pendidikan memberikan wawasan bahwa pendidikan bukan sekadar kegiatan teknis atau administratif, melainkan sebuah sistem sosial-budaya yang kompleks. Misalnya, penelitian sosiologis menunjukkan bahwa latar belakang sosial-ekonomi keluarga sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa (Coleman, 1968), sementara studi antropologi mengungkapkan bahwa gaya komunikasi, bahasa, dan norma budaya lokal turut menentukan efektivitas pembelajaran (Heath, 1983). Pemahaman lintas budaya ini penting terutama di Indonesia yang multikultural, agar pendidik dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial peserta didik. Pendidikan yang berperspektif sosiologis dan antropologis pada akhirnya tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis, empati sosial, serta penghargaan terhadap keberagaman manusia dan budaya.

Dengan demikian, pengertian sosiologi dan antropologi tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Sosiologi membantu menjelaskan bagaimana pendidikan berfungsi dalam sistem sosial, sementara antropologi membantu memahami bagaimana pendidikan membentuk dan dibentuk oleh kebudayaan. Keduanya memberikan fondasi teoretis bagi calon pendidik untuk melihat peserta didik bukan hanya sebagai individu, melainkan juga sebagai makhluk sosial dan kultural yang hidup dalam konteks masyarakat tertentu. Melalui pemahaman ini, pendidik diharapkan mampu merancang proses pembelajaran yang sensitif terhadap realitas sosial dan budaya, serta berkontribusi dalam membangun sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan humanis (Tilaar, 2002). Oleh karena itu, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan bukan sekadar mengenal teori, tetapi juga membangun kesadaran kritis akan peran pendidikan sebagai kekuatan sosial yang dapat mengubah masyarakat menuju tatanan yang lebih beradab.

C. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Sosiologi dan Antropologi Pendidikan

Ruang lingkup sosiologi dan antropologi pendidikan mencakup kajian terhadap berbagai fenomena sosial dan budaya yang berkaitan dengan proses pendidikan, baik yang terjadi di dalam maupun di luar lembaga pendidikan formal. Sosiologi pendidikan memusatkan perhatian pada hubungan antara sistem pendidikan dan struktur sosial, termasuk bagaimana pendidikan berperan dalam mempertahankan atau mengubah tatanan sosial (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Objek kajian utamanya meliputi lembaga pendidikan sebagai institusi sosial, interaksi sosial di lingkungan sekolah, peran pendidikan dalam mobilitas sosial, serta pengaruh faktor sosial seperti kelas, gender, etnisitas, dan status ekonomi terhadap kesempatan belajar (Sadovnik, 2011). Dalam perspektif ini, pendidikan dipandang sebagai bagian integral dari sistem sosial yang saling memengaruhi dengan bidang kehidupan lain seperti ekonomi, politik, agama, dan keluarga (Durkheim, 1956). Oleh karena itu, analisis sosiologis terhadap pendidikan tidak hanya menyoroti individu sebagai peserta didik, tetapi juga jaringan hubungan sosial yang membentuk pengalaman dan peluang mereka dalam memperoleh pendidikan.

Sementara itu, ruang lingkup antropologi pendidikan berfokus pada dimensi kebudayaan dalam proses belajar dan mengajar. Antropologi pendidikan berupaya memahami bagaimana nilai, kepercayaan, bahasa, tradisi, dan simbol budaya mempengaruhi perilaku serta persepsi peserta didik dan guru dalam konteks pendidikan (Eriksen, 2015). Kajian antropologi tidak hanya mempelajari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal dan informal yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Peneliti antropologi sering menggunakan pendekatan etnografi untuk menggali makna-makna yang dihidupi peserta didik dan komunitasnya dalam proses pendidikan (Spradley, 2016). Dengan demikian, antropologi pendidikan memandang sekolah sebagai bagian dari sistem kebudayaan yang lebih luas, di mana setiap tindakan pendidikan mencerminkan nilai-nilai sosial dan pandangan hidup suatu kelompok. Kajian ini penting untuk memahami perbedaan cara belajar lintas budaya serta untuk merancang pendidikan yang menghargai keberagaman.

Jika ditinjau secara lebih spesifik, objek kajian sosiologi pendidikan meliputi (1) struktur sosial pendidikan—seperti hierarki, stratifikasi, dan birokrasi sekolah; (2) proses sosial—termasuk interaksi antara guru, siswa, dan masyarakat; (3) fungsi sosial pendidikan—yakni peran pendidikan dalam sosialisasi, kontrol sosial, dan mobilitas sosial; serta (4) perubahan sosial—bagaimana pendidikan menjadi agen transformasi masyarakat (Giddens, 2013; Bourdieu & Passeron, 1977). Sedangkan dalam antropologi pendidikan, objek kajiannya dapat mencakup (1) kebudayaan sekolah (school culture), (2) pola komunikasi antarbudaya dalam pembelajaran, (3) nilai-nilai lokal dalam proses sosialisasi pendidikan, serta (4) adaptasi kebudayaan dalam menghadapi modernisasi pendidikan (Geertz, 1973; Kottak, 2015). Dengan demikian, ruang lingkup kedua bidang ini saling beririsan dan memperkaya: sosiologi menekankan struktur dan hubungan sosial yang lebih luas, sedangkan antropologi menyoroti makna budaya yang mendasari tindakan dan interaksi pendidikan.

Keterpaduan antara sosiologi dan antropologi pendidikan sangat penting dalam memahami pendidikan secara komprehensif. Melalui perspektif sosiologi, kita dapat menganalisis bagaimana sistem sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan belajar, sedangkan antropologi membantu kita memahami bagaimana nilai-nilai budaya lokal memengaruhi partisipasi dan gaya belajar peserta didik (Tilaar, 2002). Dengan memadukan kedua pendekatan ini, pendidikan dapat dipahami bukan hanya sebagai proses formal dalam ruang kelas, tetapi sebagai fenomena sosial-budaya yang dinamis dan kontekstual. Oleh karena itu, ruang lingkup dan objek kajian sosiologi serta antropologi pendidikan berperan penting dalam membentuk calon pendidik yang memiliki wawasan luas, berpikir kritis, dan sensitif terhadap keberagaman sosial dan budaya peserta didik. Pendekatan ganda ini diharapkan mampu menghasilkan model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan manusia yang berbudaya, berkeadilan sosial, dan berdaya kemanusiaan.

D. Hubungan antara Sosiologi, Antropologi, dan Pendidikan 

Sosiologi, antropologi, dan pendidikan memiliki hubungan yang erat sebagai tiga bidang ilmu yang sama-sama menaruh perhatian pada manusia dan proses sosial yang berlangsung di masyarakat. Sosiologi menyoroti bagaimana struktur sosial, norma, dan institusi membentuk perilaku individu dalam masyarakat (Giddens, 2013), sedangkan antropologi menelaah bagaimana kebudayaan mengatur makna, nilai, dan praktik sosial manusia (Eriksen, 2015). Pendidikan, di sisi lain, merupakan arena di mana proses sosial dan budaya itu direproduksi dan ditransformasikan. Dengan demikian, pendidikan menjadi titik pertemuan antara sosiologi dan antropologi, karena melalui lembaga pendidikan nilai-nilai sosial dan budaya diwariskan, diseleksi, serta dimodifikasi untuk mempersiapkan generasi baru agar dapat berperan dalam masyarakat (Durkheim, 1956; Bourdieu & Passeron, 1977). Hubungan ketiganya bersifat timbal balik—sosiologi dan antropologi memberikan kerangka analisis bagi pendidikan, sementara pendidikan menjadi lahan empiris bagi pengujian dan pengembangan teori sosial serta budaya.

Dalam konteks sosiologis, pendidikan berfungsi sebagai institusi sosial yang berperan dalam sosialisasi nilai-nilai, norma, dan peran sosial. Sosiologi membantu menjelaskan bagaimana sekolah menjadi bagian dari struktur sosial yang lebih luas, termasuk hubungan antara kelas sosial, kekuasaan, dan mobilitas sosial (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Perspektif fungsionalis, seperti yang dikemukakan oleh Émile Durkheim, memandang pendidikan sebagai mekanisme untuk mempertahankan solidaritas sosial dan integrasi masyarakat (Durkheim, 1956). Sebaliknya, perspektif konflik, sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx dan Pierre Bourdieu, melihat pendidikan sebagai sarana reproduksi ketimpangan sosial melalui pewarisan modal ekonomi, sosial, dan budaya (Bourdieu & Passeron, 1977; Marx & Engels, 1970). Dengan demikian, dari kacamata sosiologi, hubungan antara pendidikan dan masyarakat bersifat dialektis: pendidikan tidak hanya mencerminkan struktur sosial, tetapi juga dapat menjadi alat perubahan sosial yang strategis apabila dikelola dengan adil dan inklusif.

Dari sudut pandang antropologi, pendidikan dipahami sebagai proses kebudayaan, yaitu upaya manusia mentransmisikan nilai, simbol, dan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Geertz, 1973). Antropologi menyoroti bagaimana proses belajar dan mengajar selalu berlangsung dalam konteks budaya tertentu, dengan bahasa, simbol, dan praktik sosial yang khas (Kottak, 2015). Misalnya, cara guru menyampaikan materi, cara siswa memahami pelajaran, serta cara keluarga mendukung pendidikan anak semuanya dipengaruhi oleh sistem nilai dan pola budaya yang mereka anut. Oleh karena itu, antropologi pendidikan membantu mengungkap makna-makna tersembunyi di balik praktik pendidikan yang sering kali tidak disadari secara eksplisit, seperti perbedaan gaya komunikasi antarbudaya, nilai kolektivisme atau individualisme, serta norma interaksi antara guru dan siswa (Spradley, 2016). Dengan perspektif antropologi, pendidik dapat memahami pendidikan tidak sekadar sebagai proses akademik, tetapi sebagai bentuk interaksi budaya yang melibatkan penyesuaian dan interpretasi makna.

Interaksi antara sosiologi dan antropologi dalam pendidikan tampak jelas ketika keduanya digunakan bersama untuk memahami realitas pendidikan secara utuh. Sosiologi memberikan kerangka analisis makro yang menjelaskan hubungan pendidikan dengan struktur sosial, kebijakan publik, dan distribusi kekuasaan, sedangkan antropologi memberikan pandangan mikro yang memperhatikan makna dan praktik budaya dalam konteks lokal (Eriksen, 2015; Sadovnik, 2011). Sebagai contoh, sosiologi dapat menjelaskan mengapa terdapat kesenjangan akses pendidikan antara kelompok kaya dan miskin, sementara antropologi membantu memahami bagaimana peserta didik dari latar belakang budaya berbeda menafsirkan pengalaman sekolah secara unik. Pendekatan ganda ini memungkinkan analisis yang lebih kaya dan kontekstual terhadap sistem pendidikan, baik dari segi kebijakan maupun praktik keseharian di kelas.

Hubungan antara sosiologi, antropologi, dan pendidikan juga tercermin dalam peran guru dan lembaga pendidikan sebagai agen sosial-budaya. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi mediator nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat (Tilaar, 2002). Melalui kurikulum, metode pengajaran, dan interaksi sosial di sekolah, nilai-nilai seperti kerja sama, toleransi, tanggung jawab, dan disiplin ditanamkan kepada peserta didik. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai wahana sosialisasi budaya dan pembentukan identitas sosial. Dalam konteks multikultural seperti Indonesia, pemahaman terhadap sosiologi dan antropologi pendidikan sangat penting agar guru mampu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan latar sosial-budaya peserta didik, serta mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang inklusif dan menghargai keberagaman (Banks, 2019).

Lebih jauh lagi, hubungan antara ketiga bidang ini juga terlihat dalam tujuan besar pendidikan sebagai alat transformasi sosial dan budaya. Sosiologi melihat pendidikan sebagai sarana untuk mengurangi ketimpangan sosial melalui peningkatan mobilitas vertikal, sementara antropologi menekankan peran pendidikan dalam pelestarian dan inovasi budaya (Comte, 1974; Heath, 1983). Ketika pendidikan dirancang dengan memperhatikan aspek sosial dan budaya, maka ia dapat menjadi kekuatan yang membebaskan—sebagaimana ditekankan dalam pedagogik transformatif (Tilaar, 2002). Dalam kerangka ini, pendidikan berperan bukan hanya dalam mencetak tenaga kerja terampil, tetapi juga dalam membentuk warga negara yang sadar sosial, kritis terhadap struktur ketidakadilan, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dengan demikian, hubungan antara sosiologi, antropologi, dan pendidikan bersifat integratif dan sinergis. Ketiganya saling melengkapi dalam menjelaskan dinamika kehidupan manusia: sosiologi memberikan pemahaman tentang struktur sosial dan relasi kekuasaan, antropologi menjelaskan makna budaya dan nilai yang melatarbelakangi tindakan manusia, sedangkan pendidikan menjadi wahana konkret di mana proses sosial-budaya itu berlangsung dan dikembangkan. Pemahaman terhadap keterkaitan ini menjadi landasan penting bagi calon pendidik dan praktisi pendidikan agar mampu membangun sistem pembelajaran yang tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga berkeadilan sosial, relevan secara budaya, dan berorientasi pada kemanusiaan.

E. Manfaat Mempelajari Sosiologi dan Antropologi Pendidikan bagi Calon Pendidik

Pemahaman terhadap sosiologi dan antropologi pendidikan memberikan landasan yang kuat bagi calon pendidik untuk memahami hakikat pendidikan sebagai proses sosial dan kultural. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, nilai, dan identitas sosial peserta didik (Durkheim, 1956). Melalui sosiologi pendidikan, calon pendidik dapat memahami bahwa kegiatan belajar-mengajar selalu terjadi dalam konteks struktur sosial tertentu yang memengaruhi hubungan antarindividu di sekolah, seperti hubungan antara guru dan murid, antara sekolah dan masyarakat, serta antara kebijakan pendidikan dan realitas sosial (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Dengan kesadaran tersebut, calon pendidik akan lebih peka terhadap perbedaan sosial, mampu mengenali potensi ketimpangan, dan dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang adil dan inklusif. Pendidikan yang sensitif terhadap konteks sosial akan membantu mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas di antara peserta didik.

Dari perspektif antropologi pendidikan, calon pendidik memperoleh pemahaman tentang bagaimana kebudayaan membentuk cara berpikir, belajar, dan berinteraksi peserta didik. Setiap peserta didik datang ke sekolah dengan latar belakang budaya yang berbeda, yang mempengaruhi cara mereka menafsirkan pengetahuan dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran (Eriksen, 2015). Pemahaman terhadap keragaman budaya membantu calon pendidik untuk menyesuaikan metode dan strategi pembelajaran agar relevan dengan nilai-nilai dan konteks kehidupan siswa. Misalnya, dalam masyarakat yang memiliki tradisi lisan yang kuat, metode belajar berbasis cerita dan diskusi kelompok akan lebih efektif dibanding pendekatan kognitif yang individualistik (Geertz, 1973; Heath, 1983). Dengan demikian, mempelajari antropologi pendidikan membekali calon pendidik dengan kemampuan untuk membangun komunikasi lintas budaya, mengelola perbedaan, dan menumbuhkan sikap toleran serta empatik di ruang kelas yang multikultural.

Selain memberikan wawasan teoritis, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan juga melatih calon pendidik dalam berpikir kritis terhadap realitas pendidikan dan masyarakat. Melalui pendekatan sosiologis, mereka dapat menganalisis bagaimana sistem sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan belajar serta bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana perubahan sosial (Bourdieu & Passeron, 1977; Sadovnik, 2011). Sementara itu, melalui pendekatan antropologis, calon pendidik dilatih untuk mengamati dan menafsirkan praktik pendidikan dari sudut pandang budaya yang beragam. Keterampilan reflektif ini sangat penting dalam menghadapi tantangan pendidikan kontemporer yang kompleks, seperti globalisasi, transformasi digital, dan perubahan nilai-nilai masyarakat. Calon pendidik yang memahami dinamika sosial dan budaya akan lebih mampu beradaptasi, berinovasi, dan mengembangkan model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman dan masyarakatnya (Tilaar, 2002).

Manfaat terakhir yang tidak kalah penting adalah penguatan kompetensi profesional dan moral calon pendidik sebagai agen transformasi sosial dan kultural. Dengan memahami sosiologi dan antropologi pendidikan, calon pendidik tidak hanya menguasai ilmu mengajar, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menempatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan manusia (Banks, 2019). Mereka akan lebih mampu melihat peserta didik sebagai subjek yang unik, menghargai keanekaragaman sosial-budaya, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan universal melalui proses pembelajaran. Pendidik yang memiliki kepekaan sosial dan kultural akan lebih efektif dalam membangun iklim belajar yang partisipatif, demokratis, dan berkeadilan. Oleh karena itu, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan merupakan investasi intelektual dan moral bagi calon pendidik agar mampu berperan sebagai pembelajar sepanjang hayat, mediator sosial, dan agen perubahan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

F. Rangkuman Materi

Sosiologi dan antropologi pendidikan merupakan dua cabang ilmu sosial yang memberikan perspektif komprehensif terhadap proses pendidikan. Sosiologi menyoroti hubungan antara pendidikan dan struktur sosial, serta bagaimana lembaga pendidikan berperan dalam mempertahankan atau mengubah tatanan masyarakat. Sementara itu, antropologi menitikberatkan pada aspek kebudayaan dalam praktik pendidikan, termasuk nilai, norma, simbol, dan makna yang membentuk perilaku belajar. Keduanya membantu kita memahami bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga proses sosialisasi dan enkulturasi yang membentuk identitas individu dalam masyarakat.

Ruang lingkup dan objek kajian sosiologi serta antropologi pendidikan mencakup interaksi sosial di sekolah, hubungan antara pendidikan dan mobilitas sosial, serta peran budaya dalam membentuk pengalaman belajar peserta didik. Melalui kajian ini, calon pendidik dapat melihat bagaimana faktor sosial seperti kelas, gender, dan status ekonomi memengaruhi akses dan kualitas pendidikan. Selain itu, pendekatan antropologis memungkinkan pendidik memahami keragaman budaya yang hadir di ruang kelas dan mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif serta relevan dengan konteks kehidupan peserta didik.

Bagi calon pendidik, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan memiliki manfaat besar dalam membangun kepekaan sosial, kultural, dan profesional. Pengetahuan ini menumbuhkan kemampuan reflektif untuk memahami peserta didik sebagai individu dengan latar sosial-budaya yang unik, serta mengarahkan pendidik menjadi agen perubahan sosial yang berkeadilan dan humanis. Dengan demikian, penguasaan terhadap kedua disiplin ini akan memperkaya wawasan pedagogis calon pendidik, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan, dan mendorong terwujudnya praktik pendidikan yang adaptif terhadap dinamika sosial serta budaya masyarakat.

Tugas dan Evaluasi 

1.     Jelaskan keterkaitan antara pendidikan dan masyarakat menurut perspektif sosiologi pendidikan. Sertakan pendapat tokoh-tokoh sosiologi seperti Emile Durkheim atau Pierre Bourdieu untuk memperkuat argumentasi Anda.

2.     Bandingkan fokus kajian antara sosiologi dan antropologi pendidikan. Berikan contoh konkret bagaimana kedua disiplin ilmu ini dapat saling melengkapi dalam memahami perilaku peserta didik di sekolah.

3.     Uraikan ruang lingkup dan objek kajian utama dalam sosiologi dan antropologi pendidikan. Jelaskan pula bagaimana pemahaman terhadap ruang lingkup tersebut dapat membantu calon pendidik menghadapi keragaman sosial dan budaya di kelas.

4.     Bagaimana hubungan antara sosiologi, antropologi, dan pendidikan dapat membentuk seorang pendidik yang peka terhadap konteks sosial dan budaya? Jelaskan dengan mengaitkan teori dan praktik pembelajaran di lingkungan sekolah.

5.     Apa manfaat utama mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan bagi calon pendidik di Indonesia masa kini? Jelaskan dengan memberikan contoh konkret dari situasi pendidikan yang Anda kenal, seperti sekolah multikultural, pesantren, atau sekolah berbasis masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Abdullah, I. (2015). Konstruksi dan reproduksi kebudayaan. Pustaka Pelajar.

Ahimsa-Putra, H. S. (2007). Strukturasi dan kebudayaan: Suatu pendekatan teori sosial budaya. Kepel Press.

Ballantine, J. H., Hammack, F. M., & Stuber, J. M. (2022). The sociology of education: A systematic analysis (10th ed.). Routledge.

Banks, J. A. (2019). Multicultural education: Issues and perspectives (10th ed.). Wiley.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Bourdieu, P., & Passeron, J.-C. (1977). Reproduction in education, society and culture. Sage.

Coleman, J. S. (1968). Equality of educational opportunity. U.S. Government Printing Office.

Comte, A. (1974). The positive philosophy of Auguste Comte. AMS Press.

Durkheim, É. (1956). Education and sociology. The Free Press.

Eriksen, T. H. (2015). Small places, large issues: An introduction to social and cultural anthropology (4th ed.). Pluto Press.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Giddens, A. (2013). Sociology (7th ed.). Polity Press.

Heath, S. B. (1983). Ways with words: Language, life and work in communities and classrooms. Cambridge University Press.

Horton, P. B., & Hunt, C. L. (1999). Sosiologi pendidikan. (Terj. Aminuddin Ram). Erlangga.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.

Kottak, C. P. (2015). Cultural anthropology: Appreciating cultural diversity (17th ed.). McGraw-Hill Education.

Marx, K., & Engels, F. (1970). The German ideology. International Publishers.

Martono, N. (2015). Sosiologi pendidikan: Kajian teoritis dan analisis terhadap realitas pendidikan di Indonesia. Rajawali Pers.

Sadovnik, A. R. (2011). Sociology of education: A critical reader (2nd ed.). Routledge.

Soekanto, S. (2012). Sosiologi: Suatu pengantar (Edisi revisi). Rajawali Pers.

Spindler, G., & Spindler, L. (1987). Education and cultural process: Anthropological approaches. Waveland Press.

Spradley, J. P. (2016). Participant observation. Waveland Press.

Spradley, J. P., & McCurdy, D. W. (2016). Conformity and conflict: Readings in cultural anthropology (15th ed.). Pearson.

Suparlan, P. (2004). Antropologi dan kebudayaan Indonesia. PT Rineka Cipta.

Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan sosial dan pendidikan: Pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Grasindo.

Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology. University of California Press.


Profil Penulis

( 1 Paragraf + foto terbaik)

 

 

 

0 Response to "BAB I PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel