BAB I PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
BAB I
PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Sosiologi dan antropologi
merupakan dua disiplin ilmu sosial yang memiliki peran penting dalam memahami
realitas pendidikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Pendidikan tidak
berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh struktur sosial,
budaya, nilai, serta norma yang hidup dalam masyarakat (Berger & Luckmann,
1966). Sosiologi membantu kita memahami bagaimana institusi pendidikan
berfungsi dalam sistem sosial, bagaimana stratifikasi sosial mempengaruhi akses
dan keberhasilan pendidikan, serta bagaimana interaksi sosial di sekolah
membentuk identitas dan perilaku peserta didik (Ballantine, Hammack, &
Stuber, 2022). Sementara itu, antropologi memberikan sudut pandang yang lebih
dalam terhadap makna pendidikan sebagai proses kebudayaan, di mana nilai-nilai,
simbol, dan praktik sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
(Eriksen, 2015). Melalui pendekatan sosiologis dan antropologis, pendidikan
dapat dipahami bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan
juga sebagai upaya reproduksi sosial dan budaya.
Dalam konteks pendidikan di
Indonesia, keterkaitan antara sosiologi dan antropologi menjadi semakin relevan
ketika kita melihat keragaman sosial dan budaya bangsa. Sistem pendidikan
nasional beroperasi dalam masyarakat yang majemuk, dengan berbagai latar
belakang etnis, bahasa, agama, dan tradisi (Tilaar, 2002). Hal ini menuntut
pendidik dan calon pendidik untuk memiliki sensitivitas sosial dan budaya yang
tinggi agar dapat berinteraksi secara efektif dengan peserta didik dari
berbagai kelompok sosial. Sosiologi pendidikan membantu memahami bagaimana
struktur sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan
belajar, sedangkan antropologi pendidikan memperkaya pemahaman tentang
bagaimana peserta didik menafsirkan pengalaman belajar sesuai konteks budaya
mereka masing-masing (Spradley & McCurdy, 2016). Dengan demikian, kedua
disiplin ini saling melengkapi dalam upaya membentuk pendidikan yang inklusif,
adil, dan berkeadaban.
Selain sebagai kajian teoritis,
sosiologi dan antropologi pendidikan juga berfungsi sebagai dasar analisis terhadap
praktik dan kebijakan pendidikan. Melalui perspektif sosiologi, kita dapat
menelaah bagaimana lembaga pendidikan berperan dalam mempertahankan atau
mengubah struktur sosial, misalnya melalui kurikulum, manajemen sekolah, dan
hubungan guru-murid (Sadovnik, 2011). Sementara itu, pendekatan antropologi
memungkinkan peneliti memahami “dunia kehidupan” (lifeworld) peserta didik,
termasuk bagaimana nilai-nilai budaya, bahasa, dan ritual lokal membentuk
pengalaman belajar mereka (Geertz, 1973). Dalam praktiknya, integrasi kedua
pendekatan ini dapat memperkuat desain pembelajaran yang relevan secara sosial
dan bermakna secara budaya, terutama dalam pendidikan yang berorientasi pada
pembentukan karakter dan masyarakat madani.
Pemahaman mendalam terhadap
sosiologi dan antropologi pendidikan menjadi landasan penting bagi mahasiswa
calon pendidik, agar mampu melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses
pedagogis, tetapi juga sebagai fenomena sosial dan budaya yang kompleks.
Melalui kajian ini, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis dinamika hubungan
antara individu, masyarakat, dan kebudayaan dalam konteks pendidikan; memahami
bagaimana sistem sosial memengaruhi akses dan kualitas pendidikan; serta
menumbuhkan kesadaran kritis terhadap keberagaman sosial-budaya di lingkungan
belajar (Bourdieu & Passeron, 1977). Oleh karena itu, pengantar sosiologi
dan antropologi pendidikan ini disusun untuk memberikan pemahaman konseptual,
teoritis, dan praktis agar mahasiswa mampu mengintegrasikan wawasan
sosial-budaya dalam praktik kependidikan yang berkeadilan, berempati, dan
berorientasi kemanusiaan.
B. Pengertian Sosiologi dan Antropologi
Sosiologi berasal dari kata
socius (Latin: kawan, masyarakat) dan logos (Yunani: ilmu), yang secara harfiah
berarti “ilmu tentang masyarakat.” Auguste Comte, yang dikenal sebagai bapak
sosiologi, pertama kali menggunakan istilah ini pada abad ke-19 untuk menandai
lahirnya disiplin ilmiah yang mempelajari masyarakat secara sistematis dan
empiris (Comte, 1974). Sosiologi bertujuan untuk memahami struktur sosial, pola
interaksi, lembaga sosial, dan proses perubahan sosial yang terjadi dalam
kehidupan manusia (Giddens, 2013). Ia berfokus pada bagaimana individu
berperilaku sebagai anggota masyarakat, serta bagaimana struktur sosial
membentuk dan dipengaruhi oleh tindakan manusia (Weber, 1978). Dalam konteks
pendidikan, sosiologi membantu menjelaskan hubungan timbal balik antara lembaga
pendidikan dan masyarakat—bagaimana sekolah mencerminkan, memelihara, atau
bahkan mengubah struktur sosial yang ada (Durkheim, 1956; Sadovnik, 2011).
Sosiologi tidak hanya berupaya
mendeskripsikan fenomena sosial, tetapi juga memahami keteraturan sosial
(social order) serta dinamika konflik dan perubahan sosial. Karl Marx melihat
masyarakat sebagai arena pertarungan kelas yang menentukan distribusi kekuasaan
dan sumber daya (Marx & Engels, 1970). Max Weber menambahkan bahwa tindakan
sosial merupakan hasil makna subjektif yang dimiliki individu dalam konteks
sosial tertentu. Sementara Émile Durkheim menekankan pentingnya fakta sosial
yang bersifat eksternal dan memaksa individu untuk berperilaku sesuai norma
masyarakat (Durkheim, 1956). Ketiga tokoh ini memberikan dasar teoretis bagi
analisis pendidikan, di mana sekolah dipandang sebagai cerminan dari relasi
kekuasaan, nilai-nilai sosial, dan sistem norma yang menata kehidupan bersama
(Bourdieu & Passeron, 1977). Oleh sebab itu, sosiologi pendidikan
berkembang sebagai cabang khusus yang mengkaji pendidikan sebagai institusi
sosial dengan peran strategis dalam pembentukan masyarakat.
Sementara itu, antropologi
berasal dari kata anthropos (Yunani: manusia) dan logos (ilmu), yang berarti
“ilmu tentang manusia.” Antropologi menelaah manusia dari berbagai
aspek—biologis, sosial, kultural, dan simbolik—dalam ruang dan waktu (Eriksen,
2015). Disiplin ini tumbuh dari semangat memahami keberagaman manusia dan
kebudayaannya, khususnya melalui penelitian lapangan yang mendalam
(ethnography) (Geertz, 1973; Spradley, 2016). Antropologi memandang kebudayaan
sebagai sistem makna yang dibangun dan diwariskan oleh manusia untuk memberi
arah pada kehidupan sosial mereka. Dengan demikian, antropologi berusaha
menjelaskan bagaimana manusia memahami dunia, mengorganisasi pengalaman, serta
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui simbol, nilai, dan praktik
budaya (Kottak, 2015). Dalam konteks pendidikan, pendekatan antropologi
membantu menjelaskan bagaimana proses belajar dan mengajar selalu dipengaruhi
oleh latar budaya, serta bagaimana pendidikan menjadi sarana pewarisan dan
transformasi budaya antar generasi (Spindler & Spindler, 1987).
Dalam praktiknya, sosiologi dan
antropologi memiliki perbedaan fokus, namun keduanya saling melengkapi dalam
memahami realitas sosial. Sosiologi cenderung menyoroti struktur sosial yang
luas—seperti sistem kelas, stratifikasi sosial, dan institusi sosial—sedangkan
antropologi lebih menekankan pemahaman mendalam terhadap kehidupan manusia
dalam konteks budaya tertentu (Eriksen, 2015). Sosiologi menjawab “bagaimana
masyarakat bekerja,” sementara antropologi menjawab “mengapa manusia
berperilaku demikian dalam konteks budayanya.” Dalam pendidikan, perspektif
sosiologi membantu mengidentifikasi masalah ketimpangan sosial, hubungan
kekuasaan, serta peran lembaga pendidikan dalam mobilitas sosial. Sedangkan antropologi
membantu memahami bagaimana nilai, bahasa, simbol, dan kebiasaan lokal
memengaruhi interaksi belajar dan persepsi tentang pendidikan itu sendiri
(Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Sinergi antara kedua disiplin ini
menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap pendidikan sebagai
sistem sosial dan proses kebudayaan yang dinamis.
Penerapan sosiologi dan
antropologi dalam bidang pendidikan memberikan wawasan bahwa pendidikan bukan
sekadar kegiatan teknis atau administratif, melainkan sebuah sistem
sosial-budaya yang kompleks. Misalnya, penelitian sosiologis menunjukkan bahwa
latar belakang sosial-ekonomi keluarga sangat mempengaruhi prestasi belajar
siswa (Coleman, 1968), sementara studi antropologi mengungkapkan bahwa gaya
komunikasi, bahasa, dan norma budaya lokal turut menentukan efektivitas
pembelajaran (Heath, 1983). Pemahaman lintas budaya ini penting terutama di
Indonesia yang multikultural, agar pendidik dapat mengembangkan pendekatan
pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial peserta didik. Pendidikan yang
berperspektif sosiologis dan antropologis pada akhirnya tidak hanya mengajarkan
pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis, empati sosial, serta
penghargaan terhadap keberagaman manusia dan budaya.
Dengan demikian, pengertian
sosiologi dan antropologi tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan itu
sendiri. Sosiologi membantu menjelaskan bagaimana pendidikan berfungsi dalam
sistem sosial, sementara antropologi membantu memahami bagaimana pendidikan
membentuk dan dibentuk oleh kebudayaan. Keduanya memberikan fondasi teoretis
bagi calon pendidik untuk melihat peserta didik bukan hanya sebagai individu,
melainkan juga sebagai makhluk sosial dan kultural yang hidup dalam konteks
masyarakat tertentu. Melalui pemahaman ini, pendidik diharapkan mampu merancang
proses pembelajaran yang sensitif terhadap realitas sosial dan budaya, serta
berkontribusi dalam membangun sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan
humanis (Tilaar, 2002). Oleh karena itu, mempelajari sosiologi dan antropologi
pendidikan bukan sekadar mengenal teori, tetapi juga membangun kesadaran kritis
akan peran pendidikan sebagai kekuatan sosial yang dapat mengubah masyarakat
menuju tatanan yang lebih beradab.
C. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Sosiologi dan Antropologi
Pendidikan
Ruang lingkup sosiologi dan
antropologi pendidikan mencakup kajian terhadap berbagai fenomena sosial dan
budaya yang berkaitan dengan proses pendidikan, baik yang terjadi di dalam
maupun di luar lembaga pendidikan formal. Sosiologi pendidikan memusatkan
perhatian pada hubungan antara sistem pendidikan dan struktur sosial, termasuk
bagaimana pendidikan berperan dalam mempertahankan atau mengubah tatanan sosial
(Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022). Objek kajian utamanya meliputi
lembaga pendidikan sebagai institusi sosial, interaksi sosial di lingkungan
sekolah, peran pendidikan dalam mobilitas sosial, serta pengaruh faktor sosial
seperti kelas, gender, etnisitas, dan status ekonomi terhadap kesempatan
belajar (Sadovnik, 2011). Dalam perspektif ini, pendidikan dipandang sebagai
bagian integral dari sistem sosial yang saling memengaruhi dengan bidang
kehidupan lain seperti ekonomi, politik, agama, dan keluarga (Durkheim, 1956).
Oleh karena itu, analisis sosiologis terhadap pendidikan tidak hanya menyoroti
individu sebagai peserta didik, tetapi juga jaringan hubungan sosial yang
membentuk pengalaman dan peluang mereka dalam memperoleh pendidikan.
Sementara itu, ruang lingkup
antropologi pendidikan berfokus pada dimensi kebudayaan dalam proses belajar
dan mengajar. Antropologi pendidikan berupaya memahami bagaimana nilai,
kepercayaan, bahasa, tradisi, dan simbol budaya mempengaruhi perilaku serta
persepsi peserta didik dan guru dalam konteks pendidikan (Eriksen, 2015).
Kajian antropologi tidak hanya mempelajari pendidikan formal, tetapi juga
pendidikan nonformal dan informal yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat. Peneliti antropologi sering menggunakan pendekatan etnografi untuk
menggali makna-makna yang dihidupi peserta didik dan komunitasnya dalam proses
pendidikan (Spradley, 2016). Dengan demikian, antropologi pendidikan memandang
sekolah sebagai bagian dari sistem kebudayaan yang lebih luas, di mana setiap
tindakan pendidikan mencerminkan nilai-nilai sosial dan pandangan hidup suatu
kelompok. Kajian ini penting untuk memahami perbedaan cara belajar lintas
budaya serta untuk merancang pendidikan yang menghargai keberagaman.
Jika ditinjau secara lebih
spesifik, objek kajian sosiologi pendidikan meliputi (1) struktur sosial
pendidikan—seperti hierarki, stratifikasi, dan birokrasi sekolah; (2) proses
sosial—termasuk interaksi antara guru, siswa, dan masyarakat; (3) fungsi sosial
pendidikan—yakni peran pendidikan dalam sosialisasi, kontrol sosial, dan
mobilitas sosial; serta (4) perubahan sosial—bagaimana pendidikan menjadi agen
transformasi masyarakat (Giddens, 2013; Bourdieu & Passeron, 1977).
Sedangkan dalam antropologi pendidikan, objek kajiannya dapat mencakup (1)
kebudayaan sekolah (school culture), (2) pola komunikasi antarbudaya dalam
pembelajaran, (3) nilai-nilai lokal dalam proses sosialisasi pendidikan, serta
(4) adaptasi kebudayaan dalam menghadapi modernisasi pendidikan (Geertz, 1973;
Kottak, 2015). Dengan demikian, ruang lingkup kedua bidang ini saling beririsan
dan memperkaya: sosiologi menekankan struktur dan hubungan sosial yang lebih
luas, sedangkan antropologi menyoroti makna budaya yang mendasari tindakan dan
interaksi pendidikan.
Keterpaduan antara sosiologi
dan antropologi pendidikan sangat penting dalam memahami pendidikan secara
komprehensif. Melalui perspektif sosiologi, kita dapat menganalisis bagaimana
sistem sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan belajar,
sedangkan antropologi membantu kita memahami bagaimana nilai-nilai budaya lokal
memengaruhi partisipasi dan gaya belajar peserta didik (Tilaar, 2002). Dengan
memadukan kedua pendekatan ini, pendidikan dapat dipahami bukan hanya sebagai
proses formal dalam ruang kelas, tetapi sebagai fenomena sosial-budaya yang
dinamis dan kontekstual. Oleh karena itu, ruang lingkup dan objek kajian
sosiologi serta antropologi pendidikan berperan penting dalam membentuk calon
pendidik yang memiliki wawasan luas, berpikir kritis, dan sensitif terhadap
keberagaman sosial dan budaya peserta didik. Pendekatan ganda ini diharapkan
mampu menghasilkan model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian
akademik, tetapi juga pada pembentukan manusia yang berbudaya, berkeadilan
sosial, dan berdaya kemanusiaan.
D. Hubungan antara Sosiologi, Antropologi, dan Pendidikan
Sosiologi, antropologi, dan
pendidikan memiliki hubungan yang erat sebagai tiga bidang ilmu yang sama-sama
menaruh perhatian pada manusia dan proses sosial yang berlangsung di
masyarakat. Sosiologi menyoroti bagaimana struktur sosial, norma, dan institusi
membentuk perilaku individu dalam masyarakat (Giddens, 2013), sedangkan
antropologi menelaah bagaimana kebudayaan mengatur makna, nilai, dan praktik
sosial manusia (Eriksen, 2015). Pendidikan, di sisi lain, merupakan arena di
mana proses sosial dan budaya itu direproduksi dan ditransformasikan. Dengan
demikian, pendidikan menjadi titik pertemuan antara sosiologi dan antropologi,
karena melalui lembaga pendidikan nilai-nilai sosial dan budaya diwariskan,
diseleksi, serta dimodifikasi untuk mempersiapkan generasi baru agar dapat
berperan dalam masyarakat (Durkheim, 1956; Bourdieu & Passeron, 1977).
Hubungan ketiganya bersifat timbal balik—sosiologi dan antropologi memberikan
kerangka analisis bagi pendidikan, sementara pendidikan menjadi lahan empiris
bagi pengujian dan pengembangan teori sosial serta budaya.
Dalam konteks sosiologis,
pendidikan berfungsi sebagai institusi sosial yang berperan dalam sosialisasi
nilai-nilai, norma, dan peran sosial. Sosiologi membantu menjelaskan bagaimana
sekolah menjadi bagian dari struktur sosial yang lebih luas, termasuk hubungan
antara kelas sosial, kekuasaan, dan mobilitas sosial (Ballantine, Hammack,
& Stuber, 2022). Perspektif fungsionalis, seperti yang dikemukakan oleh
Émile Durkheim, memandang pendidikan sebagai mekanisme untuk mempertahankan
solidaritas sosial dan integrasi masyarakat (Durkheim, 1956). Sebaliknya,
perspektif konflik, sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx dan Pierre Bourdieu,
melihat pendidikan sebagai sarana reproduksi ketimpangan sosial melalui
pewarisan modal ekonomi, sosial, dan budaya (Bourdieu & Passeron, 1977;
Marx & Engels, 1970). Dengan demikian, dari kacamata sosiologi, hubungan
antara pendidikan dan masyarakat bersifat dialektis: pendidikan tidak hanya
mencerminkan struktur sosial, tetapi juga dapat menjadi alat perubahan sosial
yang strategis apabila dikelola dengan adil dan inklusif.
Dari sudut pandang antropologi,
pendidikan dipahami sebagai proses kebudayaan, yaitu upaya manusia
mentransmisikan nilai, simbol, dan pengetahuan dari satu generasi ke generasi
berikutnya (Geertz, 1973). Antropologi menyoroti bagaimana proses belajar dan
mengajar selalu berlangsung dalam konteks budaya tertentu, dengan bahasa,
simbol, dan praktik sosial yang khas (Kottak, 2015). Misalnya, cara guru
menyampaikan materi, cara siswa memahami pelajaran, serta cara keluarga
mendukung pendidikan anak semuanya dipengaruhi oleh sistem nilai dan pola
budaya yang mereka anut. Oleh karena itu, antropologi pendidikan membantu
mengungkap makna-makna tersembunyi di balik praktik pendidikan yang sering kali
tidak disadari secara eksplisit, seperti perbedaan gaya komunikasi antarbudaya,
nilai kolektivisme atau individualisme, serta norma interaksi antara guru dan
siswa (Spradley, 2016). Dengan perspektif antropologi, pendidik dapat memahami
pendidikan tidak sekadar sebagai proses akademik, tetapi sebagai bentuk
interaksi budaya yang melibatkan penyesuaian dan interpretasi makna.
Interaksi antara sosiologi dan
antropologi dalam pendidikan tampak jelas ketika keduanya digunakan bersama
untuk memahami realitas pendidikan secara utuh. Sosiologi memberikan kerangka
analisis makro yang menjelaskan hubungan pendidikan dengan struktur sosial,
kebijakan publik, dan distribusi kekuasaan, sedangkan antropologi memberikan
pandangan mikro yang memperhatikan makna dan praktik budaya dalam konteks lokal
(Eriksen, 2015; Sadovnik, 2011). Sebagai contoh, sosiologi dapat menjelaskan
mengapa terdapat kesenjangan akses pendidikan antara kelompok kaya dan miskin,
sementara antropologi membantu memahami bagaimana peserta didik dari latar
belakang budaya berbeda menafsirkan pengalaman sekolah secara unik. Pendekatan
ganda ini memungkinkan analisis yang lebih kaya dan kontekstual terhadap sistem
pendidikan, baik dari segi kebijakan maupun praktik keseharian di kelas.
Hubungan antara sosiologi,
antropologi, dan pendidikan juga tercermin dalam peran guru dan lembaga
pendidikan sebagai agen sosial-budaya. Guru tidak hanya bertugas mentransfer
ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi mediator nilai-nilai sosial dan budaya
dalam masyarakat (Tilaar, 2002). Melalui kurikulum, metode pengajaran, dan
interaksi sosial di sekolah, nilai-nilai seperti kerja sama, toleransi,
tanggung jawab, dan disiplin ditanamkan kepada peserta didik. Dengan demikian,
pendidikan berfungsi sebagai wahana sosialisasi budaya dan pembentukan
identitas sosial. Dalam konteks multikultural seperti Indonesia, pemahaman
terhadap sosiologi dan antropologi pendidikan sangat penting agar guru mampu
menyesuaikan strategi pembelajaran dengan latar sosial-budaya peserta didik,
serta mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang inklusif dan menghargai
keberagaman (Banks, 2019).
Lebih jauh lagi, hubungan
antara ketiga bidang ini juga terlihat dalam tujuan besar pendidikan sebagai
alat transformasi sosial dan budaya. Sosiologi melihat pendidikan sebagai
sarana untuk mengurangi ketimpangan sosial melalui peningkatan mobilitas
vertikal, sementara antropologi menekankan peran pendidikan dalam pelestarian
dan inovasi budaya (Comte, 1974; Heath, 1983). Ketika pendidikan dirancang
dengan memperhatikan aspek sosial dan budaya, maka ia dapat menjadi kekuatan
yang membebaskan—sebagaimana ditekankan dalam pedagogik transformatif (Tilaar,
2002). Dalam kerangka ini, pendidikan berperan bukan hanya dalam mencetak
tenaga kerja terampil, tetapi juga dalam membentuk warga negara yang sadar
sosial, kritis terhadap struktur ketidakadilan, dan berakar pada nilai-nilai
kemanusiaan universal.
Dengan demikian, hubungan
antara sosiologi, antropologi, dan pendidikan bersifat integratif dan sinergis.
Ketiganya saling melengkapi dalam menjelaskan dinamika kehidupan manusia:
sosiologi memberikan pemahaman tentang struktur sosial dan relasi kekuasaan,
antropologi menjelaskan makna budaya dan nilai yang melatarbelakangi tindakan
manusia, sedangkan pendidikan menjadi wahana konkret di mana proses
sosial-budaya itu berlangsung dan dikembangkan. Pemahaman terhadap keterkaitan
ini menjadi landasan penting bagi calon pendidik dan praktisi pendidikan agar
mampu membangun sistem pembelajaran yang tidak hanya efektif secara akademik,
tetapi juga berkeadilan sosial, relevan secara budaya, dan berorientasi pada
kemanusiaan.
E. Manfaat Mempelajari Sosiologi dan Antropologi Pendidikan
bagi Calon Pendidik
Pemahaman terhadap sosiologi
dan antropologi pendidikan memberikan landasan yang kuat bagi calon pendidik
untuk memahami hakikat pendidikan sebagai proses sosial dan kultural.
Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi
juga pada pembentukan karakter, nilai, dan identitas sosial peserta didik
(Durkheim, 1956). Melalui sosiologi pendidikan, calon pendidik dapat memahami
bahwa kegiatan belajar-mengajar selalu terjadi dalam konteks struktur sosial
tertentu yang memengaruhi hubungan antarindividu di sekolah, seperti hubungan
antara guru dan murid, antara sekolah dan masyarakat, serta antara kebijakan
pendidikan dan realitas sosial (Ballantine, Hammack, & Stuber, 2022).
Dengan kesadaran tersebut, calon pendidik akan lebih peka terhadap perbedaan
sosial, mampu mengenali potensi ketimpangan, dan dapat berperan aktif dalam
menciptakan lingkungan belajar yang adil dan inklusif. Pendidikan yang sensitif
terhadap konteks sosial akan membantu mengurangi kesenjangan dan memperkuat
solidaritas di antara peserta didik.
Dari perspektif antropologi
pendidikan, calon pendidik memperoleh pemahaman tentang bagaimana kebudayaan
membentuk cara berpikir, belajar, dan berinteraksi peserta didik. Setiap
peserta didik datang ke sekolah dengan latar belakang budaya yang berbeda, yang
mempengaruhi cara mereka menafsirkan pengetahuan dan berpartisipasi dalam
proses pembelajaran (Eriksen, 2015). Pemahaman terhadap keragaman budaya
membantu calon pendidik untuk menyesuaikan metode dan strategi pembelajaran
agar relevan dengan nilai-nilai dan konteks kehidupan siswa. Misalnya, dalam
masyarakat yang memiliki tradisi lisan yang kuat, metode belajar berbasis
cerita dan diskusi kelompok akan lebih efektif dibanding pendekatan kognitif
yang individualistik (Geertz, 1973; Heath, 1983). Dengan demikian, mempelajari
antropologi pendidikan membekali calon pendidik dengan kemampuan untuk
membangun komunikasi lintas budaya, mengelola perbedaan, dan menumbuhkan sikap
toleran serta empatik di ruang kelas yang multikultural.
Selain memberikan wawasan
teoritis, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan juga melatih calon
pendidik dalam berpikir kritis terhadap realitas pendidikan dan masyarakat.
Melalui pendekatan sosiologis, mereka dapat menganalisis bagaimana sistem
sosial dan kebijakan publik mempengaruhi pemerataan kesempatan belajar serta
bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana perubahan sosial (Bourdieu &
Passeron, 1977; Sadovnik, 2011). Sementara itu, melalui pendekatan
antropologis, calon pendidik dilatih untuk mengamati dan menafsirkan praktik
pendidikan dari sudut pandang budaya yang beragam. Keterampilan reflektif ini
sangat penting dalam menghadapi tantangan pendidikan kontemporer yang kompleks,
seperti globalisasi, transformasi digital, dan perubahan nilai-nilai
masyarakat. Calon pendidik yang memahami dinamika sosial dan budaya akan lebih
mampu beradaptasi, berinovasi, dan mengembangkan model pembelajaran yang
relevan dengan kebutuhan zaman dan masyarakatnya (Tilaar, 2002).
Manfaat terakhir yang tidak
kalah penting adalah penguatan kompetensi profesional dan moral calon pendidik
sebagai agen transformasi sosial dan kultural. Dengan memahami sosiologi dan
antropologi pendidikan, calon pendidik tidak hanya menguasai ilmu mengajar,
tetapi juga memiliki kesadaran untuk menempatkan pendidikan sebagai instrumen
pemberdayaan manusia (Banks, 2019). Mereka akan lebih mampu melihat peserta
didik sebagai subjek yang unik, menghargai keanekaragaman sosial-budaya, dan
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan universal melalui proses pembelajaran.
Pendidik yang memiliki kepekaan sosial dan kultural akan lebih efektif dalam
membangun iklim belajar yang partisipatif, demokratis, dan berkeadilan. Oleh
karena itu, mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan merupakan
investasi intelektual dan moral bagi calon pendidik agar mampu berperan sebagai
pembelajar sepanjang hayat, mediator sosial, dan agen perubahan yang
mencerdaskan kehidupan bangsa.
F. Rangkuman Materi
Sosiologi dan antropologi
pendidikan merupakan dua cabang ilmu sosial yang memberikan perspektif
komprehensif terhadap proses pendidikan. Sosiologi menyoroti hubungan antara
pendidikan dan struktur sosial, serta bagaimana lembaga pendidikan berperan
dalam mempertahankan atau mengubah tatanan masyarakat. Sementara itu,
antropologi menitikberatkan pada aspek kebudayaan dalam praktik pendidikan,
termasuk nilai, norma, simbol, dan makna yang membentuk perilaku belajar.
Keduanya membantu kita memahami bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer
ilmu pengetahuan, melainkan juga proses sosialisasi dan enkulturasi yang
membentuk identitas individu dalam masyarakat.
Ruang lingkup dan objek kajian
sosiologi serta antropologi pendidikan mencakup interaksi sosial di sekolah, hubungan
antara pendidikan dan mobilitas sosial, serta peran budaya dalam membentuk
pengalaman belajar peserta didik. Melalui kajian ini, calon pendidik dapat
melihat bagaimana faktor sosial seperti kelas, gender, dan status ekonomi
memengaruhi akses dan kualitas pendidikan. Selain itu, pendekatan antropologis
memungkinkan pendidik memahami keragaman budaya yang hadir di ruang kelas dan
mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif serta relevan dengan konteks
kehidupan peserta didik.
Bagi calon pendidik,
mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan memiliki manfaat besar dalam
membangun kepekaan sosial, kultural, dan profesional. Pengetahuan ini
menumbuhkan kemampuan reflektif untuk memahami peserta didik sebagai individu
dengan latar sosial-budaya yang unik, serta mengarahkan pendidik menjadi agen
perubahan sosial yang berkeadilan dan humanis. Dengan demikian, penguasaan
terhadap kedua disiplin ini akan memperkaya wawasan pedagogis calon pendidik,
memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan, dan mendorong terwujudnya
praktik pendidikan yang adaptif terhadap dinamika sosial serta budaya
masyarakat.
Tugas dan Evaluasi
1. Jelaskan keterkaitan antara pendidikan dan masyarakat menurut perspektif sosiologi pendidikan. Sertakan pendapat tokoh-tokoh sosiologi seperti Emile Durkheim atau Pierre Bourdieu untuk memperkuat argumentasi Anda.
2. Bandingkan fokus kajian antara sosiologi dan antropologi pendidikan. Berikan contoh konkret bagaimana kedua disiplin ilmu ini dapat saling melengkapi dalam memahami perilaku peserta didik di sekolah.
3. Uraikan ruang lingkup dan objek kajian utama dalam sosiologi dan antropologi pendidikan. Jelaskan pula bagaimana pemahaman terhadap ruang lingkup tersebut dapat membantu calon pendidik menghadapi keragaman sosial dan budaya di kelas.
4. Bagaimana hubungan antara sosiologi, antropologi, dan pendidikan dapat membentuk seorang pendidik yang peka terhadap konteks sosial dan budaya? Jelaskan dengan mengaitkan teori dan praktik pembelajaran di lingkungan sekolah.
5.
Apa
manfaat utama mempelajari sosiologi dan antropologi pendidikan bagi calon
pendidik di Indonesia masa kini? Jelaskan dengan memberikan contoh konkret dari
situasi pendidikan yang Anda kenal, seperti sekolah multikultural, pesantren,
atau sekolah berbasis masyarakat.
Daftar Pustaka
Abdullah, I. (2015). Konstruksi dan reproduksi
kebudayaan. Pustaka Pelajar.
Ahimsa-Putra, H. S. (2007). Strukturasi dan
kebudayaan: Suatu pendekatan teori sosial budaya. Kepel Press.
Ballantine, J. H., Hammack, F. M., &
Stuber, J. M. (2022). The sociology of education: A systematic analysis (10th
ed.). Routledge.
Banks, J. A. (2019). Multicultural education:
Issues and perspectives (10th ed.). Wiley.
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The
social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge.
Anchor Books.
Bourdieu, P., & Passeron, J.-C. (1977).
Reproduction in education, society and culture. Sage.
Coleman, J. S. (1968). Equality of educational
opportunity. U.S. Government Printing Office.
Comte, A. (1974). The positive philosophy of
Auguste Comte. AMS Press.
Durkheim, É. (1956). Education and sociology.
The Free Press.
Eriksen, T. H. (2015). Small places, large
issues: An introduction to social and cultural anthropology (4th ed.). Pluto
Press.
Geertz, C. (1973). The interpretation of
cultures. Basic Books.
Giddens, A. (2013). Sociology (7th ed.).
Polity Press.
Heath, S. B. (1983). Ways with words:
Language, life and work in communities and classrooms. Cambridge University
Press.
Horton, P. B., & Hunt, C. L. (1999).
Sosiologi pendidikan. (Terj. Aminuddin Ram). Erlangga.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu
antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
Kottak, C. P. (2015). Cultural anthropology:
Appreciating cultural diversity (17th ed.). McGraw-Hill Education.
Marx, K., & Engels, F. (1970). The German
ideology. International Publishers.
Martono, N. (2015). Sosiologi pendidikan:
Kajian teoritis dan analisis terhadap realitas pendidikan di Indonesia.
Rajawali Pers.
Sadovnik, A. R. (2011). Sociology of
education: A critical reader (2nd ed.). Routledge.
Soekanto, S. (2012). Sosiologi: Suatu pengantar
(Edisi revisi). Rajawali Pers.
Spindler, G., & Spindler, L. (1987).
Education and cultural process: Anthropological approaches. Waveland Press.
Spradley, J. P. (2016). Participant
observation. Waveland Press.
Spradley, J. P., & McCurdy, D. W. (2016).
Conformity and conflict: Readings in cultural anthropology (15th ed.). Pearson.
Suparlan, P. (2004). Antropologi dan
kebudayaan Indonesia. PT Rineka Cipta.
Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan sosial dan
pendidikan: Pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Grasindo.
Weber, M. (1978). Economy and society: An
outline of interpretive sociology. University of California Press.
Profil Penulis
( 1 Paragraf + foto terbaik)

0 Response to "BAB I PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN"
Posting Komentar